Terus Menyapa Indonesia Maju
Indonesia Maju bukan hanya tentang masa depan. Ia adalah tentang keberanian kita hari ini untuk tidak membiarkan ketimpangan menjadi warisan.
Jakarta – Indonesia Maju adalah kalimat yang sering kita dengar seperti lagu kebangsaan kedua. Ia diucapkan dalam pidato resmi, terpampang dalam baliho besar, hadir di spanduk acara pemerintah, bahkan menjadi tagline yang seolah-olah sudah final.
Indonesia Maju, katanya. Indonesia melesat, katanya. Indonesia menuju masa depan, katanya. Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar sedang maju, atau hanya sedang sibuk mengeja kata “maju” tanpa pernah benar-benar berjalan?
Sebab dalam kenyataan, kemajuan bukan sekadar deretan angka dalam laporan pembangunan. Kemajuan bukan hanya grafik pertumbuhan ekonomi yang naik seperti tebing.
Kemajuan bukan pula soal berapa banyak gedung tinggi yang menembus langit. Kemajuan sejati adalah ketika rakyat kecil tidak lagi merasa hidupnya seperti menunggu giliran nasib.
Ketika kemajuan bukan hanya milik kota, tetapi juga milik desa. Ketika kemajuan tidak berhenti di pusat, tetapi sampai di pinggiran. Ketika kemajuan tidak hanya dirayakan oleh elite, tetapi juga dirasakan oleh orang-orang yang setiap hari bekerja dengan keringat dan harapan.
Kita sering lupa bahwa sebuah bangsa bisa tampak megah dari kejauhan, tetapi rapuh dari dalam. Seperti rumah yang catnya baru, tapi pondasinya retak. Kita bisa punya jalan tol panjang, tetapi masih ada anak yang harus berjalan kaki melewati lumpur untuk sekolah.
Kita bisa punya proyek raksasa, tetapi masih ada petani yang menjual hasil panen dengan harga yang bahkan tidak cukup untuk membeli pupuk. Kita bisa punya wacana digitalisasi dan kecerdasan buatan, tetapi masih ada guru honorer yang bertahan hidup dengan gaji yang lebih mirip uang saku daripada upah pengabdian.
Indonesia Maju seharusnya bukan sekadar slogan. Ia harus menjadi rasa yang hidup di dada rakyat. Kemajuan yang tidak menyentuh dapur rakyat hanyalah kemajuan yang sekadar memanjakan panggung.
Kemajuan yang hanya menguntungkan segelintir orang adalah kemajuan yang cacat sejak lahir. Kemajuan semacam itu bukan membawa bangsa ke depan, tetapi hanya memindahkan kesenjangan ke level yang lebih rapi.
Kemajuan tidak bisa hanya diukur dari seberapa cepat internet kita, tetapi juga dari seberapa kuat etika kita. Tidak cukup membangun jaringan 5G jika masih banyak yang membangun karier dengan cara menipu, membangun kekuasaan dengan cara memeras, membangun reputasi dengan cara memanipulasi. Bangsa yang maju bukan bangsa yang paling cepat berlari, tetapi bangsa yang tahu ke mana arah larinya.
Kita perlu jujur bahwa Indonesia hari ini sering seperti kereta yang melaju, tetapi penumpangnya tidak semua mendapat tempat duduk. Ada yang nyaman di gerbong depan, ada yang terjepit di gerbong belakang.
Ada yang menikmati pemandangan, ada yang bahkan tidak tahu kereta ini menuju ke mana. Inilah sebabnya, kemajuan harus terus disapa, bukan hanya diumumkan. Harus terus diingatkan, bukan hanya dipamerkan.
Menyapa Indonesia Maju berarti menyapa mereka yang selama ini jarang disebut dalam pidato. Menyapa nelayan yang setiap hari bertaruh nyawa dengan ombak tetapi tetap miskin di daratan.
Menyapa buruh yang membangun gedung tinggi namun hidupnya tetap rendah di tangga kesejahteraan. Menyapa pedagang kecil yang digempur harga sewa dan persaingan platform besar. Menyapa petani yang setia pada tanah, tetapi tanahnya justru sering menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak.
Menyapa Indonesia Maju juga berarti menyapa generasi muda yang sedang berjuang dalam dunia yang tidak ramah. Dunia yang memaksa mereka kompetitif, tetapi tidak memberi ruang adil.
Dunia yang menuntut mereka kreatif, tetapi sering mematikan kreativitas lewat birokrasi yang kaku. Dunia yang memaksa mereka produktif, tetapi lupa bahwa manusia juga butuh waktu untuk pulih.
Di tengah semua itu, kita harus sadar bahwa kemajuan tidak pernah datang sebagai hadiah. Kemajuan adalah hasil dari kerja panjang, disiplin kolektif, dan keberanian untuk mengoreksi diri.
Kemajuan adalah kemampuan bangsa untuk bercermin tanpa marah. Mengakui kekurangan tanpa kehilangan semangat. Mengkritik tanpa menjadi pembenci. Memuji tanpa menjadi penjilat.
Indonesia Maju hanya akan menjadi kenyataan jika kita menempatkan pendidikan sebagai jantung pembangunan, bukan sebagai proyek seremonial. Jika kita menempatkan kesehatan sebagai hak, bukan sebagai kemewahan.
Jika kita menempatkan lapangan kerja sebagai prioritas, bukan sebagai janji lima tahunan. Jika kita menempatkan keadilan sosial sebagai napas, bukan sebagai slogan di dinding konstitusi.
Sebab, bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang bisa membangun gedung, tetapi bangsa yang bisa membangun manusia. Bukan hanya bangsa yang bisa menciptakan teknologi, tetapi bangsa yang bisa menciptakan karakter. Bukan hanya bangsa yang mampu menghasilkan kekayaan, tetapi bangsa yang mampu membagi kesejahteraan.
Kita sering ingin menjadi negara besar, tetapi lupa bahwa negara besar bukan negara yang banyak bicara tentang kebesaran. Negara besar adalah negara yang bekerja dalam diam, tetapi hasilnya terdengar sampai jauh. Negara besar bukan yang gemar merayakan pencapaian, tetapi yang tidak berhenti menata kekurangan.
Indonesia Maju bukan mimpi kosong. Ia bisa menjadi kenyataan jika kita sepakat bahwa kemajuan harus dirawat seperti menanam pohon. Ia butuh waktu, butuh kesabaran, butuh ketekunan, dan butuh keberanian untuk membersihkan gulma. Gulma itu bernama korupsi. Gulma itu bernama ketidakadilan. Gulma itu bernama kebijakan yang tidak berpihak. Gulma itu bernama mentalitas “asal jadi”.
Jika gulma itu dibiarkan, kemajuan hanya akan tumbuh di satu sisi, sementara sisi lainnya kering. Kemajuan hanya akan menjadi taman indah untuk segelintir orang, sementara rakyat lainnya tetap berjalan di jalan tanah penuh debu.
Karena itu, terus menyapa Indonesia Maju berarti terus mengingatkan bahwa kemajuan bukan barang jadi. Ia adalah proses panjang yang harus diperjuangkan setiap hari. Ia bukan sekadar ucapan dalam acara resmi, melainkan komitmen dalam tindakan nyata.
Dan mungkin, di situlah letak tugas kita sebagai warga bangsa. Terus menyapa, terus mengingatkan, terus menagih, sekaligus terus ikut bekerja. Sebab Indonesia Maju bukan milik pemerintah semata, bukan milik elite semata, melainkan milik semua orang yang masih percaya bahwa negeri ini layak diperjuangkan.
Indonesia Maju bukan hanya tentang masa depan. Ia adalah tentang keberanian kita hari ini untuk tidak membiarkan ketimpangan menjadi warisan. Tentang kesediaan kita untuk menjadikan kemajuan sebagai milik bersama, bukan milik segelintir. Tentang tekad kita untuk membangun negeri ini bukan hanya dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan nurani dan keadilan.
Maka mari terus menyapa Indonesia Maju, bukan sebagai slogan kosong, tetapi sebagai janji yang harus dibayar lunas oleh kerja, integritas, dan keberpihakan. Karena kemajuan yang paling indah adalah kemajuan yang membuat semua orang merasa ikut sampai.
***
*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




