AirNav Indonesia Proyeksikan Trafik Lebaran 2026 Naik 4,5 Persen
AirNav Indonesia siapkan 1.700 personil ATC dan teknologi INMC guna kawal lonjakan trafik udara 4,5% serta mitigasi gangguan balon udara liar saat Lebaran 2026.
Jakarta – Gerbang langit Indonesia bersiap menyambut gelombang pemudik pada periode Angkutan Lebaran (Angleb) 2026. Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia memproyeksikan adanya kenaikan trafik penerbangan sebesar 4,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini bukan sekadar angka, melainkan tantangan ruang udara yang memerlukan presisi tinggi. Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, menegaskan bahwa seluruh unit layanan navigasi telah melakukan penebalan kesiapan operasional untuk menjamin keselamatan jutaan penumpang di udara.
INMC: "Menara Pengawas" Digital Nasional
Dalam menghadapi anomali trafik ini, AirNav mengandalkan Indonesia Network Management Centre (INMC). Fasilitas ini bertindak sebagai pusat orkestrasi yang memantau pergerakan pesawat secara real-time di seluruh cakrawala nusantara.
"Peningkatan pergerakan telah diantisipasi melalui langkah kesiapan operasional yang komprehensif. INMC menjadi kunci untuk mengoordinasikan pelayanan navigasi agar tetap lancar di tengah kepadatan jadwal," ujar Setio dalam keterangannya di Tangerang, Senin.
Untuk menopang sistem ini, kekuatan infrastruktur yang disiagakan meliputi:
-
2.800+ fasilitas komunikasi, navigasi, dan surveilans (Sistem ATC).
-
1.700 petugas Air Traffic Controller (ATC) yang bersiaga penuh (in-charge).
-
1.000 teknisi Air Traffic Service Engineers untuk menjamin keandalan sistem.
-
650+ personel pendukung dari Aeronautical Information dan Air Communication.
Mitigasi Risiko: Dari Cuaca hingga Balon Udara Liar
Selain aspek teknis, AirNav Indonesia memberikan perhatian khusus pada gangguan non-teknis yang berpotensi mengancam keselamatan penerbangan. Fokus utama tertuju pada tradisi pelepasan balon udara liar yang kerap muncul di beberapa titik krusial, seperti Kabupaten Wonosobo dan Kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Setio mengingatkan bahwa ancaman balon udara, cuaca ekstrem, hingga aktivitas abu vulkanik memerlukan kewaspadaan kolektif. "Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh AirNav sendirian. Kami berharap kesadaran masyarakat meningkat agar ruang udara kita tetap aman," tambahnya.
Efisiensi Prosedur di Ratusan Bandara
Kesiapan prosedur juga telah dimatangkan di ratusan bandara. AirNav memastikan optimalisasi prosedur keberangkatan (Standard Instrument Departure), kedatangan (Standard Terminal Arrival Route), hingga pendekatan pendaratan (Initial Approach Procedures).
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap detik penggunaan ruang udara berjalan efisien, meminimalkan holding time (pesawat menunggu berputar di udara), dan menjaga aspek keselamatan sebagai prioritas absolut dalam filosofi layanan navigasi nasional. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


