Di Hotel Transit, Kafilah Haji ESQ Tours Ikuti Pembekalan agar Siap Lahir Batin Jelang Arafah
Jemaah haji ESQ Tours Travel memanfaatkan masa transit untuk memperkuat kesiapan lahir batin menjelang puncak ibadah haji di Arafah.
JAKARTA – Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, banyak jemaah mulai mengurangi aktivitas fisik dan memperkuat kesiapan spiritual. Momentum inilah yang dimanfaatkan kafilah haji ESQ Tours Travel untuk memperdalam penguatan rohani selama masa transit di hotel sebelum Armuzna.
Selama lima hari masa transit, para jemaah diarahkan untuk memantapkan niat dan kesiapan lahir batin sebagai bekal menghadapi fase terpenting dalam rangkaian ibadah haji, yakni wukuf di Arafah.
Pembimbing Haji ESQ Tours Travel, KH. Dr. Abdul Adzim Irsad, menegaskan bahwa momen tersebut bukan sekadar waktu istirahat, melainkan titik refleksi spiritual sebelum memasuki puncak haji.
“Momen di hotel transit ini harus jadi titik balik. Mantapkan niat. Siapkan diri. Karena Arafah sudah di depan mata,” ujarnya.
Haji Bukan Sekadar Soal Kemampuan Finansial
Dalam bimbingannya, KH Abdul Adzim mengingatkan bahwa ibadah haji pada dasarnya wajib bagi Muslim yang mampu secara fisik maupun ekonomi. Namun, menurutnya, kemampuan materi saja tidak cukup tanpa kesiapan hati dan keteguhan niat.

“Bagi orang yang mampu secara fisik dan ekonomi, wajib hukumnya untuk memenuhi panggilan haji,” tegasnya.
Ia menilai, perjalanan haji merupakan panggilan spiritual yang membutuhkan kesiapan menyeluruh. Tidak sedikit orang yang sebenarnya berkecukupan secara finansial justru gagal berangkat karena keraguan hati atau belum siap meninggalkan urusan duniawi.
Untuk menggambarkan hal itu, ia mengisahkan cerita ulama kharismatik Madura, Kiai Khalil Bangkalan. Dalam kisah tersebut, ada seseorang yang secara ekonomi mampu menunaikan haji, namun membatalkan keberangkatannya hanya karena anggota keluarganya tidak jadi berangkat.
Di sisi lain, ada pula orang dengan kondisi ekonomi terbatas yang justru dimudahkan jalannya menuju Tanah Suci karena memiliki niat kuat dan kesiapan batin.
“Kisah ini mengajarkan bahwa keraguan atau penolakan dalam hati bisa menjadi penghalang menunaikan ibadah haji, terlepas dari kondisi materi,” jelasnya.
Menyambut Arafah dengan Kesiapan Total
Menurut KH Abdul Adzim, menjelang wukuf di Arafah, jemaah perlu menjaga keseimbangan antara kesiapan fisik dan spiritual. Kesiapan lahir mencakup kesehatan tubuh, kecukupan biaya, serta penyelesaian urusan duniawi sebelum berangkat.
Sementara kesiapan batin diwujudkan melalui niat yang lurus karena Allah SWT, kesiapan meninggalkan keluarga untuk sementara, serta ketundukan penuh terhadap rangkaian ibadah yang akan dijalani.
Bagi banyak jemaah, fase menjelang Armuzna menjadi waktu yang penuh refleksi. Tidak hanya tentang perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin untuk memperkuat makna penghambaan dan kepasrahan kepada Tuhan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

