Pakar Hukum Minta Pemerintah Pastikan Mandat Pengerahan Personel di ISF
TIMES Jakarta/Presiden RI Prabowo Subianto berbincang dengan Presiden AS Donald Trump saat KTT Dewan Perdamaian (BoP) di Donald J. Trump US Institute of Peace, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). (FOTO: ANTARA FOTO/HO-Setpres/hma/wpa)

Pakar Hukum Minta Pemerintah Pastikan Mandat Pengerahan Personel di ISF

Pakar hukum internasional UI Hikmahanto Juwana mengingatkan pemerintah memastikan mandat sebelum mengirim personel Indonesia ke ISF di Jalur Gaza.

TIMES Jakarta,Sabtu 21 Februari 2026, 10:03 WIB
556
A
Antara

JAKARTAGuru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengingatkan pemerintah Indonesia untuk memastikan kejelasan mandat sebelum menerjunkan personel ke International Stabilization Force (ISF) di Jalur Gaza.

Peringatan tersebut disampaikan menyusul tawaran posisi Wakil Panglima ISF kepada Indonesia yang diumumkan oleh Mayor Jenderal Jasper Jeffers dalam pertemuan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC.

Menurut Hikmahanto, mandat yang jelas menjadi syarat utama sebelum keputusan pengiriman pasukan diambil.

“Mandat ini penting karena akan diketahui ruang lingkup tugasnya, berapa lama, serta anggarannya berapa besar,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Ia menilai hingga kini belum ada mandat spesifik terkait pengerahan ISF, baik dari Dewan Perdamaian maupun dari Dewan Keamanan PBB yang mengesahkan pembentukan BoP melalui Resolusi 2803.

Mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Hikmahanto menegaskan bahwa partisipasi personel Indonesia seharusnya mengacu pada mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan semata keputusan Dewan Perdamaian.

Ia juga menekankan bahwa jika diterjunkan, personel Indonesia akan menjalankan peran non-combat dengan fokus pada misi kemanusiaan, bukan operasi tempur langsung.

“Hal-hal tersebut harus jelas terlebih dahulu sebelum Wakil Panglima ISF dapat ditentukan,” kata akademisi UI itu.

Pandangan serupa disampaikan Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal.

Ia meminta kejelasan apakah personel Indonesia yang tergabung dalam ISF akan menggunakan helm biru (blue helmets) seperti pasukan penjaga perdamaian PBB pada umumnya.

Menurut Dino, jika pasukan Indonesia tidak mengenakan helm biru, maka hal itu akan menjadi preseden baru bagi keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional.

Ia pun mendorong pemerintah memberikan penjelasan transparan kepada publik apabila skema tersebut benar diterapkan.

Dalam forum Dewan Perdamaian, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia berkontribusi menjaga gencatan senjata di Jalur Gaza.

Pemerintah, kata Prabowo, siap mengirim hingga 8.000 personel melalui ISF dan bahkan membuka peluang penambahan jumlah pasukan bila diperlukan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Antara
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.