https://jakarta.times.co.id/
Berita

AS Pertimbangkan Serangan Udara ke Iran, 2000 Orang Tewas dalam Unjukrasa

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:58
AS Pertimbangkan Serangan Udara ke Iran, 2000 Orang Tewas dalam Unjukrasa Para pengunjuk rasa solidaritas di Whitehall, London tengah, menunjukkan gambar Ayatollah Ali Khamenei yang terbakar. (FOTO: New York Post/Reuters)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump sedang pertimbangkan melakukan serangan udara ke Iran untuk menghentikan penindasan terhadap para pengunjukrasa.

Pihak Gedung Putih mengatakan bahwa para pengunjukrasa itu dibunuh di jalanan oleh para aparat keamanan di Iran.

"Namun, jalur diplomasi tetap terbuka, dengan Iran mengambil "nada yang jauh berbeda" dalam diskusi pribadi dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff," kata Sekretaris Pers, Karoline Leavitt.

“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah selalu mempertimbangkan semua opsi yang ada. Dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi,” kata Leavitt kepada wartawan di luar Sayap Barat.

Leavitt menambahkan bahwa “diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden.”

“Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah secara pribadi, dan saya pikir presiden tertarik untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersebut," tambahnya.

Sementara itu dari Amerika,  Donald Trump mengatakan kepada warga Iran teruslah berdemonstrasi. "Bantuan sedang dalam perjalanan, dan rezim akan 'membayar harga yang mahal," katanya seperti dilansir New York Post.

Presiden Trump juga menyerukan  para demonstran Iran  untuk mengambil alih gedung-gedung pemerintah pada hari Selasa dalam salah satu seruannya yang paling keras hingga saat ini untuk revolusi penggulingan rezim.

Sementara jumlah korban tewas akibat kerusuhan anti-pemerintah di Iran  dilaporkan telah melampaui 2.000 jiwa.

“Para patriot Iran, teruslah berprotes, kuasai lembaga-lembaga kalian,"  tulis Trump  di Truth Social.

"Simpan nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran berhenti. Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA!!!".

Trump bersikap pura-pura tidak tahu ketika wartawan bertanya bantuan apa yang ingin dia berikan. "Kalian harus mencari tahu sendiri, maaf," katanya.

Selain itu, ia juga mendesak warga Amerika dan warga negara asing lainnya untuk meninggalkan Iran.
“Saya rasa mereka harus pergi,” kata Trump.

Presiden AS itu juga menyatakan, bahwa pertemuan dibatalkan menunjukkan bahwa utusan khusus Steve Witkoff tidak akan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Iran yang pekan lalu menawarkan negosiasi untuk mencegah intervensi AS.

Sebuah tim kecil yang terdiri dari para ajudan senior Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance, telah mempersiapkan berbagai opsi sejak Jumat dan bertemu lagi pada Selasa sore.

Senin kemarin, Trump telah mengumumkan embargo ekonomi terhadap Iran, dan mengancam akan mengenakan tarif 25%  pada negara mana pun yang gagal memutuskan hubungan perdagangan dengan Iran menyusul kekhawatiran ekonomi yang memicu kerusuhan yang sedang berlangsung.

Belum jelas seberapa ketat kebijakan tersebut akan diterapkan.

Mitra dagang utama Iran diantaranya China, Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India.

Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan tindakan militer atas  pembunuhan para demonstran , tetapi belum memberikan petunjuk tentang kemungkinan tindak lanjutnya, setelah sebelumnya merahasiakan niatnya sebelum memerintahkan serangan udara pada bulan Juni terhadap program nuklir Iran dan serangan Delta Force pada 3 Januari yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Menurut  Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS, lebih dari 2.000 orang tewas di Iran selama protes anti-pemerintah, dimana 1.847 di antaranya adalah pengunjukrasa dan 135 adalah personel keamanan.

Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa dia telah melihat "lima rangkaian angka yang berbeda" tentang jumlah korban jiwa, tetapi bahwa "jumlahnya terlalu banyak, berapa pun itu."

Pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran telah membatasi peredaran gambar dan informasi tentang protes tersebut, yang menurut saksi mata telah berubah menjadi pembantaian.

BBC Persia juga menggambarkan pembantaian di seluruh kota-kota besar negara itu dengan seorang pekerja kamar mayat di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, mengatakan kepada media tersebut bahwa ada 200 mayat dengan luka di kepala pada hari Jumat.

Di Fardis, sebelah barat Teheran, para pejuang paramiliter Basij milik pemerintah tiba-tiba menyerang para pengunjukrasa pada hari Jumat dan "dua atau tiga orang tewas di setiap gang," kata seorang saksi kepada BBC.

Di sebuah rumah sakit di Teheran timur, seorang karyawan mengatakan ada sekitar 40 jenazah pada hari Kamis, lapor stasiun televisi Inggris tersebut.

Meskipun Iran pernah mengalami protes nasional sebelumnya, kekerasan yang terjadi kali ini berada pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Amerika dan membawa Ayatollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.

Meski demikian hingga sejauh ini Trump belum mendukung hasil tertentu dari unjukrasa tersebut dan ia mengatakan belum berpikir itu "pantas" baginya untuk berbicara dengan putra Shah terakhir, Reza Pahlavi, yang telah mendorong protes tersebut.

"Saya pikir kita harus membiarkan semua orang keluar sana, dan kita akan lihat siapa yang akan muncul," kata presiden AS itu. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.