TIMES JAKARTA, JAKARTA – Aqsa Working Group (AWG) resmi memberangkatkan empat relawan yang akan berlayar menembus blokade Gaza bersama aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dalam misi Global Sumud Flotilla.
"Flotilla kali ini tidak hanya satu kapal, melainkan lebih dari 40 kapal. Ini adalah simbol perlawanan global terhadap Zionisme internasional," kata Ketua Presidium AWG, Muhammad Anshorullah dalam siaran pers AWG di Jakarta, Jumat.
Anshorullah mengatakan pengerahan empat relawan bersama puluhan aktivis Indonesia menunjukkan komitmen AWG untuk terus bersama-sama melawan kedzaliman Zionis Israel dan membebaskan Al-Aqsa serta Palestina.
Ia menegaskan bahwa Sumud Flotilla merupakan gerakan sipil global sebagai respons atas genosida di Palestina dan kegagalan para pemimpin dunia untuk menghentikan kejahatan Zionis Israel.
Menurutnya, armada internasional yang akan berangkat pada 4 September itu, akan menjadi gerakan bersejarah yang melibatkan lebih dari 40 kapal dari 44 negara.
Anshorullah mengatakan misi kemanusiaan ini merupakan tindak lanjut dari gerakan Freedom Flotilla sebelumnya, termasuk Madleen dan Handala.
Global Sumud Flotilla akan berangkat dari Spanyol pada 31 Agustus, kemudian disusul keberangkatan dari Tunisia dan berbagai pelabuhan lain pada 4 September.
Adapun 44 negara tersebut di antaranya Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Brasil, Italia, Maroko, Sri Lanka, Tunisia, Belanda, Kolombia, dan puluhan negara lainnya.
Flotilla ini merupakan kolaborasi empat koalisi besar yakni Maghreb Sumud Flotilla, Global Movement to Gaza, Freedom Flotilla Coalition, dan Sumud Nusantara.
Sebagai bagian dari Sumud Nusantara -- koalisi negara-negara Asia -- AWG berperan sebagai Country Director Indonesia, yang mengoordinasikan konvoi darat, aksi damai hingga pengiriman relawan.
Flag off delegasi Sumud Flotilla telah dilakukan pada 23 Agustus di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Blokade kejam Zionis Israel yang diberlakukan sejak 2007 telah menjadikan Gaza sebagai penjara terbuka terbesar di dunia, membatasi pergerakan manusia, obat-obatan, bahan bakar, dan pangan.
Menurut data PBB, 80 persen penduduk Gaza hidup bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan pengangguran melampaui 50 persen dan sistem kesehatan di ambang kehancuran.
Kondisi ini semakin memburuk sejak agresi brutal Zionis Israel pada 7 Oktober 2023, yang dinilai lembaga HAM internasional sebagai kejahatan perang dan genosida. (*)
Pewarta | : Antara |
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |