15 Warga Tewas Akibat Runtuhnya Apartemen Tua di Lebanon
Korban tewas akibat runtuhnya dua bangunan di Tripoli, Lebanon, bertambah menjadi 15 orang. Wali Kota Tripoli mengundurkan diri di tengah kemarahan warga soal kelalaian infrastruktur.
JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat runtuhnya dua bangunan tempat tinggal di Kota Tripoli, Lebanon, meningkat menjadi 15 orang. Kepastian ini diperoleh setelah operasi pencarian dan penyelamatan resmi dinyatakan berakhir pada Senin (9/2/2026), sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon.
Direktur Jenderal Pertahanan Sipil, Imad Khreiss, mengonfirmasi bahwa tim penyelamat berhasil menemukan 14 jenazah tambahan dan menyelamatkan delapan orang dari reruntuhan di lingkungan Bab Al-Tabbaneh. Khreiss menyebutkan dua bangunan yang bersebelahan tersebut dihuni oleh 22 warga, meski otoritas setempat sempat memperingatkan kemungkinan adanya korban hilang lainnya.
Insiden tragis ini sempat terekam kamera warga dan tersebar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan detik-detik saat struktur bangunan ambruk hingga ke bagian basement, yang kemudian menyelimuti jalanan dengan awan debu tebal dan puing-puing.
Kelalaian Infrastruktur dan Desakan Mundur
Wali Kota Tripoli, Abdel Hamid Karimeh, menegaskan bahwa kota terbesar kedua di Lebanon ini telah mengalami kerusakan infrastruktur jangka panjang.
"Ribuan warga kami di Tripoli terancam akibat kelalaian selama bertahun-tahun. Situasi ini sudah di luar kemampuan pemerintah kota," ujar Karimeh.
Buntut dari tragedi ini, Karimeh mengumumkan pengunduran dirinya kepada Menteri Dalam Negeri dan menetapkan Tripoli sebagai "kota yang dilanda bencana".
Senada dengan hal itu, Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut insiden ini sebagai bencana kemanusiaan. Ia menyatakan pemerintah siap menyediakan akomodasi bagi penghuni yang dievakuasi, sembari mengakui adanya pembiaran masalah struktural yang terakumulasi selama puluhan tahun.
Tren Bangunan Runtuh di Lebanon
Tragedi di Bab Al-Tabbaneh merupakan kasus bangunan runtuh kelima di Tripoli sepanjang musim dingin ini. Dua pekan sebelumnya, insiden serupa merenggut nyawa seorang ayah dan putrinya.
Bulan lalu, Otoritas Penanggulangan Bencana Tingkat Tinggi mencatat lebih dari 100 bangunan di Tripoli membutuhkan peringatan evakuasi segera. Banyak blok perumahan di Lebanon dibangun secara ilegal tanpa izin selama periode perang saudara (1975-1990). Selain itu, penambahan lantai bangunan tanpa pengawasan teknis menjadi pemicu utama kerentanan struktur, terutama saat cuaca ekstrem.
Serikat Nasional Pemilik Properti dalam pernyataan resminya mendesak pemerintah melakukan penilaian nasional terhadap bangunan berisiko. Mereka menilai insiden ini adalah bentuk kelalaian negara terhadap keselamatan warga.
Saat ini, aparat berwenang telah mengevakuasi bangunan di sekitar lokasi kejadian untuk mengantisipasi kerusakan struktural susulan. Pemerintah Lebanon berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh dan mengambil tindakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan konstruksi tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




