Kisah Spiritual Panjang Samanta Elsener Menjadi Mualaf
Samanta Elsener, adik dari pembawa acara Darius Sinathrya, menjadi sorotan publik setelah membagikan kisah personalnya memeluk Islam.
Jakarta – Samanta Elsener, psikolog dan penulis, membagikan perjalanan hidupnya yang akhirnya membawanya menjadi mualaf. Keputusannya memeluk Islam menjadi bagian dari proses penyembuhan diri dan pencarian ketenangan batin.
Sosok Samanta Elsener, adik dari pembawa acara Darius Sinathrya, menjadi sorotan publik setelah membagikan kisah personalnya memeluk Islam. Cerita ini ia sampaikan dalam kanal YouTube bersama Melaney Ricardo dan dilansir dari wolipop.detik.com.
Samanta lahir dalam keluarga Katolik yang taat. Ia mengaku kehilangan figur ibu saat berusia tiga setengah tahun, pengalaman yang meninggalkan luka batin mendalam.
"Jadi, ada empat bersaudara. Yang pertama wanita, Darius yang kedua, saya yang ketiga, dan di bawah saya ada satu lagi. Saya 37 tahun tahun ini. (Dulu Katolik) ibu saya Katolik. Ayah dulu seorang Muslim, lalu ketika kami semua dibaptis Katolik, ayah juga ikut menjadi Katolik. Ayah datang dari keluarga yang sangat multikultural dengan toleransi agama yang tinggi, sementara ibu adalah penganut Katolik Roma," ujarnya di YouTube Melaney Ricardo.
Ibu Samanta, orang Swiss asli, dan ayahnya, yang berdarah Jawa, menikah meski berbeda keyakinan. Ayahnya sempat berpindah keyakinan mengikuti baptis keluarga, sementara ibu tetap Katolik hingga wafat.
Beberapa bulan setelah dibaptis, ibu Samanta meninggal dunia. Samanta mengaku tidak terlalu ingat kejadian itu karena masih berumur tiga setengah tahun. Lima tahun kemudian, ayahnya menikah lagi, namun Samanta dan saudara-saudaranya tinggal di rumah sendiri dengan pengasuh.
"Ini bukan kemarahan kepada Tuhan, tapi kesedihan yang mendalam. Mengapa ibu harus meninggalkanku? Mengapa dia yang dipanggil? Saya merasa tidak nyaman hidup sendirian," kenangnya.
Masa sekolah menengah menjadi titik awal Samanta bersikap kritis terhadap keyakinan dan kehidupan spiritualnya. Ia sering mengajukan pertanyaan teologis yang dianggap menjengkelkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Lingkungan keluarga dan yayasan ayahnya di Yogyakarta memperkenalkan Samanta pada keragaman agama. Dari situ, ia mulai mencari jawaban logis atas pertanyaan spiritualnya, termasuk mengapa Adam memakan buah terlarang.
Sebelum menemukan Islam, Samanta menelusuri berbagai keyakinan. Ia mempelajari Buddhisme karena tertarik pola hidup sehatnya, kemudian mendalami Hinduisme dan Yudaisme.
Islam menjadi agama terakhir yang ia pelajari. Pada awalnya, isu Islamofobia membuatnya ragu, namun pengalaman di kampus kawasan Grogol, Jakarta Barat, mengubah pandangannya.
"Apa yang mengejutkan saya adalah hanya melakukan pergerakan itu (gerakan salat) membuat saya merasa tenang. Padahal saat itu saya belum mualaf. Atmosfer positif itu yang menarik saya," tutur Samanta.
Interaksi dengan teman-teman Muslim di sekolah negeri dan lingkungan kampus membuatnya menyadari Islam jauh dari citra negatif yang selama ini ia dengar. Agama ini justru menawarkan kedamaian batin dan jawaban atas kegelisahan jiwanya.
Keputusan Samanta berpindah keyakinan tetap didukung keluarga. Ayahnya, yang sempat berpindah dari Islam ke Katolik, menunjukkan tingkat toleransi tinggi. Dukungan juga datang dari kakaknya, Darius Sinathrya, dan iparnya, Donna Agnesia.
Bagi Samanta, menjadi mualaf bukan bentuk pemberontakan, melainkan proses penyembuhan diri. Ia kini merasa damai, mampu berdamai dengan masa lalunya yang penuh duka, dan menemukan jalan spiritual yang paling sesuai bagi jiwanya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

