https://jakarta.times.co.id/
Opini

Pesantren untuk Negeri yang Berduka

Kamis, 08 Januari 2026 - 23:34
Pesantren untuk Negeri yang Berduka Abdurrahman Wahid, Pengurus Depertemen SDI DPP HEBITREN & Ketua P4NJ Jabodetabek-Banten.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Bencana ini tak mengenal etika bertamu: datang, menghantam, lalu pergi meninggalkan puing. Pada 25 November 2025, hujan deras di Sumatera dan Aceh berubah menjadi banjir bandang. Air membawa lumpur, batu, dan kayu merusak rumah, memutus kehidupan, serta meninggalkan luka yang dalam. Di saat seperti ini, kata-kata penghibur saja tak cukup; yang dibutuhkan adalah tangan-tangan yang hadir dan bekerja.

Di tengah kekacauan itu, Wizstren (Wakaf, Infaq, zakat dan Sadakah Pesantren) sebuah lembaga filantropi yang baru lahir dari rahim pesantren juga sedang belajar berdiri. Kami belum mahir. Belum punya strategi canggih, tak memiliki protokol evakuasi yang mentereng, bahkan masih gelagapan mengatur langkah pertama.

Kami jujur: kami masih amatir. Namun, di pesantren kami diajarkan satu prinsip yang tak bisa dinegosiasikan: jika melihat tetangga keberatan beban, tanganmu jangan cuma masuk saku. Maka, dengan modal nekat dan sedikit “ngotot” khas santri, kami bergerak.

Wizstren wilayah segera menghimpun donasi dari Lampung, Jawa Barat, Papua, hingga Sumatera Selatan. Semua menyatu dalam satu tekad: mengurangi, sebisanya, beban saudara-saudara yang tertimpa musibah. Dewan Eksekutif Nasional Wizstren kemudian membentuk Satgas Tanggap Bencana. Mungkin terlambat, tapi tetap harus diambil. Sebab bencana tak pernah menunggu kesiapan.

Informasi lapangan mengalir deras. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat semuanya membutuhkan hal-hal sederhana: makanan siap saji, tenda, selimut, dan pakaian. Di Tamiang, Aceh, relawan Wizstren bahkan sudah lebih dulu hadir sebelum tim pusat berangkat: membuka dapur umum, membersihkan masjid, dan menemani warga menyusun kembali kehidupan yang retak. Dana yang terkumpul memang tak banyak, namun cukup untuk membuktikan bahwa niat baik tak perlu menunggu kelimpahan.

Menuju lokasi pun bukan perkara mudah. Harga tiket pesawat melambung, rute penerbangan berbelit bahkan harus singgah ke Kuala Lumpur atau Singapura untuk menuju Medan. Namun berkat lobi “jalur langit” dan bantuan kawan di Halim, kami akhirnya dapat menumpang Hercules. Di dalam perut burung besi itu, kami duduk bersila di lantai besi, dikelilingi kardus bantuan. Pantat panas, hati adem. Di sanalah kami belajar: menolong sesama dimulai dengan melepas gengsi dan kenyamanan.

Medan menjadi posko transit. Di kota itu kami bertemu relawan, menyusun koordinasi, pemetaan, dan asesmen lapangan. Kami memutuskan bergerak ke Pondok Pesantren Darus Salam di Ujung Batu, Barus, Tapanuli Tengah. Barus bukan sekadar titik bencana; ia adalah simpul peradaban Islam Nusantara sejak abad ke-7. Di sana kami berziarah ke makam Syekh Mahmud dan Syaikh Rukunuddin Mahligai, memohon restu agar pengabdian ini menjadi keberkahan yang mengalir.

Namun pemandangan di Darus Salam membuat dada sesak. Bayangkan: pukul sepuluh malam, air datang tanpa mengetuk pintu. Para santri terpaksa memanjat plafon dan bertahan hingga siang. Cerita itu disampaikan dengan mata yang redup, tetapi tak menyerah. Kami memutuskan menginap, menyusun rencana bersama relawan yang telah bekerja keras membersihkan masjid, musala, dan rumah warga, sekaligus menghidupkan dapur umum. Sebab pemulihan tak boleh berhenti hanya karena air telah surut.

Perjalanan berlanjut ke Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah 2 di Lumut. Dari sanalah dapur umum disiapkan untuk warga Hutanabolon, Tukka wilayah yang menerima terjangan lumpur paling kejam. Dua desa bahkan tertimbun lumpur dan tak lagi layak huni. Malam itu kami mencoba masuk ke Tukka: jalan berat, lumpur tebal, penerangan minim, dan hujan gerimis mengiringi langkah. Bagi warga, hujan bukan lagi berkah, melainkan alarm bahaya. Trauma melekat di setiap tetes air.

Di Masjid Al Huda, Hutanabolon, warga berkumpul. Kami duduk bersama, makan bersama, berbagi cerita. Banyak rumah hancur; lumpur setinggi hampir satu meter mengubur ruang hidup mereka. Listrik baru menyala tiga hari sebelumnya jauh dari klaim “93 persen pulih”. Bantuan dijatuhkan dari helikopter seperti memberi makan burung, sementara warga harus berenang di lumpur setinggi pinggang untuk mengambilnya. Seorang warga berbisik getir, “Yang bersih cuma mata kami, Pak. Sisanya lumpur dan duka.”

Yang lebih menyakitkan, bencana ini disebut lebih parah dari tsunami Aceh 2004. Ancaman pun belum usai BMKG memperingatkan hujan lebat masih akan datang. Di Tukka, pada hari Sabtu itu, kami menyalurkan 1.200 paket makanan di tengah reruntuhan kayu dan batu.

Ironis rasanya: kita masih sibuk berdebat soal legalitas hutan, sementara rakyat kehilangan tempat tinggal. Thailand sejak 1989 telah memilih keselamatan rakyat di atas segalanya. Haruskah kita malu pada alam dan pada kemanusiaan kita sendiri?

Sebelum pulang, saya bertemu seorang anak. Ia menyapa lebih dulu dengan suara bergetar. Rumahnya hancur dihantam batu dan kayu. Namun yang paling menyedihkan bukan itu, melainkan buku pelajaran, tas sekolah, dan sepatu kecilnya yang hanyut terbawa arus. Saya terdiam. Yang hilang dari anak itu bukan sekadar benda, melainkan rasa aman dan potongan masa kecilnya. Wajah polosnya adalah wajah masa depan bangsa. Jika kita membiarkannya berjalan sendirian dalam luka, maka masa depan negeri ini ikut hanyut.

Pekerjaan Wizstren masih panjang: sumur bor, sanitasi, beasiswa santri, hingga pembangunan rumah. Kami mungkin masih belajar, masih tertatih. Namun pesantren mengajarkan satu hal yang tak tergoyahkan: keberpihakan pada manusia adalah bentuk ibadah yang paling nyata.

Ibadah ini tak membutuhkan baju koko rapi. Cukup dengan kaki yang berani kotor dan hati yang mau merasakan perihnya sesama. Kami akan terus berjalan bukan karena kami hebat, melainkan karena sebagai santri, kami tak punya alasan untuk diam saat negeri sedang berduka.

Bencana adalah pengingat bagi nurani kolektif kita. Ia mengetuk hati agar kita saling menguatkan, bukan saling menyalahkan. Dari duka ini, harapan tetap menyala: Aceh dan Sumatera akan pulih, roda ekonomi kembali berputar, pasar kembali riuh, dan keceriaan perlahan menghiasi wajah mereka.

Sebab kebangkitan tak pernah lahir dari pertunjukan tunggal. Ia tumbuh dari kebersamaan, peran aktif, dan semangat pantang menyerah. Dari sanalah kemanusiaan menemukan maknanya.

 

***

*) Oleh : Abdurrahman Wahid, Pengurus Depertemen SDI DPP HEBITREN & Ketua P4NJ Jabodetabek-Banten.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.