MBG Tak Menyelesaikan Stunting
MBG harus dilihat sebagai bagian dari orkestrasi kebijakan yang lebih besar melibatkan pendidikan, sanitasi, ekonomi lokal, dan perubahan perilaku.
Jakarta – Gagasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendadak menjadi primadona diskusi dari warung kopi hingga ruang kuliah. Narasinya terdengar heroik: negara hadir, menyuapkan gizi langsung ke mulut generasi masa depan. Di atas kertas, program ini tampak seperti “peluru perak” yang akan melumpuhkan stunting dalam sekali tembak.
Namun realitas tak sesederhana poster kampanye. Pertanyaannya patut kita ajukan dengan jujur: apakah sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur yang dibagikan gratis otomatis cukup untuk menyelamatkan kualitas sumber daya manusia? Jawabannya, jika kita mau objektif, belum tentu.
Tentu saja, intervensi pangan adalah langkah penting. Anak yang lapar sulit belajar, tubuh yang kekurangan protein sulit tumbuh optimal. Memberikan asupan bergizi adalah fondasi. Tetapi menjadikan MBG sebagai satu-satunya tumpuan pemberantasan stunting adalah penyederhanaan yang berbahaya seolah-olah persoalan kompleks bisa diselesaikan dengan satu kotak makan siang.
Selama ini, polemik MBG sering terjebak pada hitung-hitungan anggaran dan siapa yang mendapat proyek pengadaan. Diskursus publik berkutat pada angka triliunan rupiah dan tender katering. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih mendasar jarang disentuh: bagaimana program ini mengubah ekosistem kesehatan di tingkat akar rumput? Bagaimana ia membentuk pola pikir, bukan sekadar mengisi perut?
Stunting bukan hanya soal kurang makan. Ia adalah akumulasi dari kurang gizi kronis, sanitasi buruk, pola asuh yang keliru, serta akses kesehatan yang timpang. Anak bisa saja kenyang hari ini, tetapi jika air yang diminum tercemar dan kebiasaan cuci tangan diabaikan, masalahnya tak akan selesai. Kita tak bisa memadamkan api dengan menyiram satu titik, sementara bara menyala di sekelilingnya.
Kita juga menghadapi persoalan budaya pangan. Di banyak wilayah sub-urban dan pedesaan, serbuan iklan makanan instan dan minuman tinggi gula telah membentuk preferensi baru. Ironinya, mi instan dan sosis pabrikan sering dianggap lebih praktis dan “kekinian” ketimbang telur, ikan, atau sayuran lokal yang justru lebih bergizi dan terjangkau.
Ada pula faktor gengsi sosial stunting sering dianggap aib, seolah-olah pengakuan bahwa anak kurang gizi adalah pengakuan kegagalan orang tua. Akibatnya, sebagian keluarga enggan datang ke Posyandu karena takut dicap.
Di sinilah MBG tidak boleh berhenti sebagai layanan antar makanan. Ia harus menjadi pintu masuk bahkan jika perlu menjadi “kuda troya” untuk perbaikan gizi yang lebih menyeluruh. Program ini semestinya didesain sebagai pemantik perubahan perilaku, bukan sekadar rutinitas distribusi.
Pertama, integrasi dengan Posyandu dan edukasi pola asuh adalah keniscayaan. Pemberian makanan gratis bisa dikaitkan dengan kewajiban orang tua memantau tumbuh kembang anak secara rutin. Saat pengambilan jatah makanan, selipkan edukasi yang membumi tentang pentingnya protein hewani, variasi pangan, hingga praktik kebersihan dasar.
Edukasi tidak perlu berbahasa rumit; cukup sederhana dan aplikatif. Tujuannya jelas: ketika suatu saat program ini berakhir atau anggaran berubah arah, keluarga tetap memiliki pengetahuan untuk menjaga gizi anak secara mandiri.
Kedua, sanitasi dan air bersih harus berjalan paralel. Mustahil berbicara gizi tanpa berbicara jamban sehat dan air layak konsumsi. Kampanye cuci tangan pakai sabun sebelum makan harus menjadi disiplin kolektif di sekolah dan desa.
Jika perlu, jadikan itu ritual bersama sebelum menyantap MBG. Anggaran besar tak boleh hanya habis untuk menu, tetapi juga untuk infrastruktur dasar yang menopang kesehatan.
Ketiga, rantai pasok perlu dilokalisasi. Program triliunan rupiah ini jangan sampai hanya memperkaya korporasi besar, sementara petani dan nelayan lokal menjadi penonton. Bahan baku MBG semestinya diserap dari produsen pangan di daerah masing-masing. Dengan begitu, biaya distribusi lebih efisien, bahan lebih segar, dan ekonomi desa ikut bergerak.
Ketika hasil panen dibeli untuk kebutuhan program, daya beli keluarga meningkat. Dan ketika daya beli naik, kemampuan menyediakan makanan bergizi di rumah pun ikut terdongkrak. Inilah efek berganda yang seharusnya dikejar.
Lebih jauh, transparansi anggaran adalah syarat mutlak. Program sebesar ini rawan disusupi kepentingan. Tanpa pengawasan publik dan akuntabilitas yang ketat, MBG berisiko berubah menjadi proyek seremonial ramai di awal, redup di tengah jalan. Padahal yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi kebijakan, melainkan masa depan generasi.
Kita harus menyadari satu hal: investasi gizi hari ini adalah fondasi pertahanan ekonomi esok hari. Anak-anak yang tumbuh sehat dan cerdas akan menjadi inovator, tenaga kerja produktif, dan pemimpin masa depan. Sebaliknya, stunting adalah bom waktu demografi menggerogoti produktivitas dan meningkatkan beban kesehatan negara.
Karena itu, piring yang penuh memang bisa mengusir lapar, tetapi ia belum tentu menghapus akar masalah. Mengenyangkan perut adalah langkah awal; menyehatkan ekosistem adalah tujuan akhir. MBG harus dilihat sebagai bagian dari orkestrasi kebijakan yang lebih besar melibatkan pendidikan, sanitasi, ekonomi lokal, dan perubahan perilaku.
Momentum ini terlalu berharga jika hanya berhenti pada pembagian jatah makan. Kita membutuhkan kebijakan yang presisi, pelaksanaan yang jujur, dan visi yang jauh melampaui masa jabatan. Jika dijalankan secara holistik, MBG bisa menjadi fondasi lahirnya generasi emas.
Jika dikelola setengah hati, ia hanya akan menjadi program kenyang sesaat yang tak menyentuh masa depan. Kini pilihannya ada di tangan kita: sekadar membagi nasi, atau benar-benar menumbuhkan harapan.
***
*) Oleh : Muh. Noaf Afgani, Lulusan S1 Pendidikan Agama Islam dan Penggiat Literasi.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




