TIMES JAKARTA, JAKARTA – Nama Jose Mourinho kembali menjadi sorotan jelang laga krusial Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid, pada Kamis (29/1/2026) dini hari. Bukan hanya karena kepentingan klasemen, tetapi juga karena sentuhan emosional yang menyertai pertemuan dua klub yang memiliki benang merah dalam perjalanan kariernya.
Jose Mourinho secara terbuka melontarkan pujian kepada pelatih anyar Real Madrid, Álvaro Arbeloa, yang tak lain adalah mantan anak asuhnya saat masih menangani Madrid pada awal 2010-an. Dalam konferensi pers jelang laga, pelatih asal Portugal itu menyebut Arbeloa sebagai salah satu pemain paling berkesan sepanjang karier kepelatihannya.
Secara jujur, Jose Mourinho mengakui Arbeloa bukanlah pemain paling bertalenta yang pernah ia latih di Real Madrid. Namun, dari sisi karakter, relasi personal, dan empati, Arbeloa dinilainya berada di level tertinggi.
“Ia bukan yang terbaik secara teknis, tetapi jelas salah satu manusia terbaik yang pernah bermain untuk saya,” ujar Jose Mourinho, menegaskan dimensi kepemimpinan non-teknis yang ia lihat pada sosok Arbeloa.
Arbeloa sendiri baru dua pekan menempati kursi pelatih utama Real Madrid setelah promosi dari tim B, menggantikan Xabi Alonso. Saat diperkenalkan, pelatih berusia 43 tahun itu secara terbuka mengakui pengaruh besar Jose Mourinho dalam pembentukan mental dan filosofi kepelatihannya, meski menegaskan tidak berniat menjadi “Mourinho versi baru” di Santiago Bernabéu.
Menanggapi pujian tersebut, Arbeloa menyampaikan apresiasi dengan nada emosional. Ia menilai Jose Mourinho lebih dari sekadar pelatih, melainkan figur penting dalam perjalanan hidupnya di sepak bola profesional. Hubungan personal inilah yang memberi warna tersendiri pada laga Benfica kontra Real Madrid.
Di sisi lain, pertandingan ini juga sarat kepentingan kompetitif. Jose Mourinho, yang pernah mengangkat trofi Liga Champions bersama Porto dan Inter Milan, membutuhkan kemenangan Benfica atas Real Madrid untuk menjaga peluang lolos ke fase gugur Liga Champions. Benfica saat ini berada di posisi 29 dari 36 tim, terpaut lima peringkat dari batas zona playoff.
Real Madrid sendiri masih belum sepenuhnya aman meski bertengger di posisi ketiga. Dengan format liga fase baru, hanya delapan besar yang otomatis melaju ke babak 16 besar. Situasi ini membuat laga di Lisbon menjadi krusial bagi kedua tim.
Jose Mourinho pun menutup dengan refleksi khasnya tentang sepak bola. Menurutnya, seberapa pun matang analisis dan prediksi dibuat, selalu ada satu elemen yang tak bisa dikendalikan. “Ketidakpastian adalah keindahan sepak bola. Anda tak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya. (*)
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |