Trump Tuntut Iran Menyerah Tanpa Syarat, Oh Nanti Dulu
AS di bawah Donald Trump menuntut Iran menyerah tanpa syarat usai digempur bersama Israel, namun Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tak akan tunduk dan siap perang panjang.
JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat (6/3/2026) kemarin menuntut agar Iran menyerah tanpa syarat setelah digempur selama seminggu bersama-sama dengan Israel.
Namun Iran bukan negara yang mudah menyerah, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyatakan pada hari yang sama bahwa Iran tidak akan mau menyerah. "Musuh harus tahu bahwa impian mereka tentang penyerahan diri kita tidak akan menjadi kenyataan," tegas Pezeshkian.
Meski demikian, kata Pezeshkian kalau untuk kepentingan perdamaian di kawasan Timur Tengah, Iran tetap berkomitmen sepenuhnya. Bahkan Pezeshkian juga meminta maaf kepada negara-negara tetangga, menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara Iran telah sepakat untuk tidak melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga kecuali mereka terlebih dahulu menyerang Iran.
"Namun kalau Iran diserang, maka Iran tegas akan membela martabat dan otoritas tanpa ragu-ragu," tegasnya.
Jumat kemarin Donald Trump menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat dan mengancam akan melancarkan pemboman besar-besaran.
Sementara itu, Jenderal purnawirawan Inggris, Sir Richard Shirreff mengkritik pembunuhan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Ali Khamenei, dan ia menyamakan tindakan tersebut seperti membunuh Paus di tangga Basilika Santo Petrus.
Richard Shirreff juga mengingatkan, bahwa seharusnya Inggris tidak terlibat terlalu dekat dengan Amerika.
"Mereka dipimpin oleh orang-orang gila yang bersemangat seperti Trump dan Hegseth. Ini bisa berakhir seperti Irak. Ini adalah perang kesombongan. Amerika tidak tahu bagaimana ini akan berakhir. Tidak ada strategi," tegasnya
"Khamenei adalah tokoh agama bagi Syiah, bukan hanya kepala negara. Kematiannya akan mengobarkan dunia Syiah, mendorong sejumlah besar warga Iran kembali ke kelompok yang tidak mau berdamai," tambahnya.
Namun Donald Trump dengan sombongnya menyatakan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat.
"Setelah itu, dan setelah terpilihnya seorang pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan banyak sekutu serta mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya. Iran akan memiliki masa depan yang cerah," katanya.
Tetapi juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Ali Naeini, menyatakan, bahwa pihaknya sepenuhnya siap untuk perang jangka panjang hingga menghukum agresor AS-Israel.
Dia juga memperingatkan Amerika Serikat dan rezim Israel, dipersilahkan menunggu serangan mematikan dan menyakitkan dari Iran dalam gelombang Operasi Janji Sejati 4.
"Senjata-senjata baru Iran sedang dalam perjalanan dan IRGC belum menggunakan senjata-senjatanya dalam skala besar," tambah Naeini.
Rezim AS dan Israel menyerang Iran pada hari Sabtu, 28 Februari, yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, para komandan militer senior, dan warga sipil.
Secara paralel, Garda Revolusi Iran terus mengintensifkan serangan rudal mereka ke wilayah-wilayah di dalam Israel, bertepatan dengan serangan rudal dari Hizbullah Lebanon .
Di Lebanon , Hizbullah mengatakan para pejuangnya bentrok dengan pasukan infanteri Israel di kota Nabi Sheet di Lembah Bekaa di Lebanon timur, setelah melihat empat helikopter Israel yang mendaratkan pasukan infanteri di segitiga pinggiran kota Yahfoufa, Khraiba, dan Maaraboun.
Sebuah sumber militer Lebanon mengkonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa mereka sedang menyelidiki kemungkinan pendaratan pasukan Israel di kota Nabi Sheet di Lebanon timur, setelah mendengar suara bentrokan.
Namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Jumat (6/3/2026) kemarin dengan entengnya menuntut agar Iran menyerah tanpa syarat setelah digempur selama seminggu bersama-sama dengan Israel, tetapi Iran tidak mau dan siap perang dalam jangka panjang.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




