Setelah Hancurkan Gaza dan Genosida Warga Palestina, Israel Kini Menginvasi Suriah
TIMES Jakarta/Kendaraan militer Israel sedang melaju di pinggiran kota Hader menuju pangkalan militer Israel di wilayah Suriah pada 11 Juni 2025 di Provinsi Quneitra, Suriah (FOTO: Al Jazeera/Getty Image)

Setelah Hancurkan Gaza dan Genosida Warga Palestina, Israel Kini Menginvasi Suriah

Rabu (25/2/2026) malam, lebih dari 30 kendaraan militer memasuki provinsi Quneitra, Suriah barat daya - pelanggaran baru terhadap kedaulatan negara Suriah.

TIMES Jakarta,Kamis 26 Februari 2026, 09:00 WIB
1K
W
Widodo Irianto

JAKARTASelain menduduki dan menghancurkan Gaza, Israel kini juga menginvasi Suriah.

Rabu (25/2/2026) malam, lebih dari 30 kendaraan militer memasuki provinsi Quneitra, Suriah barat daya -  pelanggaran baru terhadap kedaulatan negara Suriah.

Media lokal melaporkan bahwa konvoi militer Israel yang terdiri lebih dari 30 kendaraan memasuki wilayah Tel al-Ahmar timur dekat desa Ain Ziwan di pedesaan Quneitra selatan.

Media juga mencatat bahwa pasukan tersebut menembakkan suar ke langit di daerah tersebut, tanpa mengklarifikasi apakah mereka kemudian mundur atau masih berada di lokasi tersebut.

Tidak ada komentar langsung dari pemerintah Suriah mengenai serangan tersebut, dan Israel tidak mengumumkan motifnya di balik operasi tersebut.

Pasukan Israel telah melakukan operasi rutin di Suriah sejak jatuhnya rezim Assad, berpatroli di wilayah barat daya dan melancarkan serangan udara terhadap infrastruktur militer Suriah.

Perkembangan ini, seperti dilansir Al jazeera terjadi beberapa jam setelah serangan serupa oleh pasukan Israel yang terdiri dari tiga kendaraan ke pedesaan Quneitra.

Saluran resmi tersebut juga melaporkan bahwa sambil menjajah  pasukan Israel juga melakukan penangkapan terhadap seorang penggembala dan menyita sejumlah ternaknya.

Menurut sumber-sumber lokal , wilayah Suriah selatan – khususnya daerah pedesaan Quneitra dan Daraa baru-baru ini melihat peningkatan pelanggaran Israel.

Pelanggaran itu termasuk serangan darat, penembakan artileri, penangkapan, pendirian pos pemeriksaan, interogasi terhadap orang yang lewat, dan penghancuran tanaman.

Damaskus berulang kali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Penarikan Pasukan tahun 1974, sementara Israel menyatakan perjanjian tersebut batal setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2023.

Perkembangan ini terjadi meskipun pada tanggal 6 Januari lalu diumumkan pembentukan mekanisme komunikasi antara Suriah dan Israel di bawah pengawasan Amerika, dengan tujuan mengoordinasikan pertukaran informasi, mengurangi eskalasi militer, dan keterlibatan diplomatik.

Warga Suriah mengatakan bahwa berlanjutnya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel ini telah menghambat upaya memulihkan stabilitas. Juga membatasi kemampuan pemerintah Suriah untuk menarik investasi serta memperbaiki kondisi ekonomi negara. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Widodo Irianto
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.