https://jakarta.times.co.id/
Berita

Tertinggi Ketiga di Dunia, Menkes: Kusta Bukan Kutukan dan Tidak Mematikan

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:47
Tertinggi Ketiga di Dunia, Menkes: Kusta Bukan Kutukan dan Tidak Mematikan The Habibie Center menyelenggarakan Media Briefing bertajuk “Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia” yang diselenggarakan di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta. (FOTO: Moh Ramli/TIMES Indonesia)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Upaya eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan deteksi dini hingga hambatan sosial berupa stigma negatif dan diskriminasi.

Tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi orang yang terdampak kusta dan keluarganya.

Dalam konteks tersebut, The Habibie Center menyelenggarakan Media Briefing bertajuk “Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia” yang diselenggarakan di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Dari pantauan TIMES Indonesia, agenda ini menghadirkan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Mr. Yohei Sasakawa, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie dan Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori. Diskusi ini dipandu oleh Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center, Prof. Dewi Fortuna Anwar.

Tertinggi Ketiga di Dunia

Pada tahun 2023, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa terdapat 12.798 kasus baru kusta yang dilaporkan secara nasional. Data WHO juga menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan beban kusta tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Brasil. 

Lebih dari 90 persen kasus baru tergolong tipe multibasiler, yaitu tipe yang berkaitan dengan tingkat penularan dan keparahan penyakit yang lebih tinggi. 

Selain itu, sekitar 5,75 persen orang yang terdampak kusta di Indonesia telah mengalami Disabilitas Tingkat 2 pada saat diagnosis, yang mencerminkan masih adanya keterlambatan dalam deteksi dini. 

Secara keseluruhan, indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa penularan kusta di Indonesia masih berlangsung aktif dan sistem deteksi dini belum berfungsi secara optimal.

Tidak Mematikan 

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, ada dua masalah dalam penyakit kusta ini. Pertama, masyarakat sering kali tidak mengetahui bahwa Puskesmas bisa mengobati sampai sembuh. "Obatnya ada dan ampuh," katanya.

Kedua, penyakit ini dinilai sebagai kutukan. Akhirnya, mereka yang mengalami penyakit ini sering kali terisolasi dari masyarakat. Oleh karenanya, Budi meminta kepada media agar memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa penyakit kusta tersebut tidak berbahaya. "Dan ini tidak mematikan. Obatnya ampuh dan menyembuhkan," tegasnya. 

Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengatakan, dari riset yang pihaknya lakukan diberbagai daerah di Indonesia, memang dua masalah yang disebut oleh Menteri Kesehatan tersebut adalah benar adanya. 

"Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek," jelasnya. 

Stigma buruk, kata dia, memang sangat melekat pada masyarakat. Sehingga, ada orang yang mengalami penyakit kusta tersebut tidak mau diobati, akhirnya sampai kehilangan nyawa.

"Selain persoalan diskriminasi, tantangan lainnya yakni dana yang minim dan persoalan obat yang sedikit sementara pasien sangat membutuhkan," ujarnya. 

WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Mr. Yohei Sasakawa menambahkan, PR besar untuk dunia, khususnya di Indonesia, dalam masalah kusta tersebut, memang harus segera adanya edukasi secara terus menerus di masyarakat. 

Menurutnya, kesalahan persepsi adalah sangat fatal. Banyak orang yang harusnya sembuh, namun karena masalah sosial seperti diskriminasi sangat tinggi, akhirnya nyawa mereka pun tak tertolong. 

"Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi dan memberi mereka simpati. Saya juga berharap kita bersama-sama dalam melakukan pendekatan demi menghilangkan kusta dengan baik," ujarnya. (*)

Pewarta : Moh Ramli
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.