TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di tengah kembali meningginya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Rusia memosisikan diri sebagai aktor penyeimbang dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Kremlin menegaskan kesiapan Moskow untuk berkontribusi meredakan situasi, di saat ancaman militer dan diplomasi koersif kembali mencuat.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia terus menjalin komunikasi dengan seluruh pihak yang berkepentingan, sembari membuka ruang bagi solusi yang dapat menurunkan eskalasi.
“Rusia terus melanjutkan upayanya, terus menjalin kontak dengan semua pihak yang berkepentingan dan, sebisa mungkin, tetap siap berkontribusi meredakan ketegangan di Iran,” ujar Peskov kepada wartawan, Senin.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi posisi Rusia yang selama ini konsisten mendorong pendekatan diplomatik dalam isu nuklir Iran, sekaligus menjaga pengaruh strategisnya di kawasan yang rawan konflik terbuka.
Opsi Uranium sebagai Jalan Tengah
Dalam konteks teknis, Peskov mengungkapkan bahwa Rusia menawarkan opsi mengekspor kelebihan uranium yang diperkaya dari Iran. Skema ini dinilai dapat menjadi solusi kompromi untuk meredakan kekhawatiran internasional terhadap potensi pengembangan senjata nuklir.
Menurut Kremlin, langkah tersebut berpotensi menghilangkan hambatan utama bagi sejumlah negara yang selama ini memandang program nuklir Iran sebagai ancaman keamanan global. Opsi ini juga pernah menjadi bagian dari diskursus internasional pada fase awal kesepakatan nuklir Iran sebelum kembali runtuh akibat ketegangan politik.
Ancaman AS dan Tekanan Negosiasi
Sikap Rusia itu muncul di tengah tekanan keras dari Washington. Pada Januari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa sebuah “armada besar” tengah menuju kawasan Iran. Ia menyebut langkah tersebut sebagai sinyal serius agar Teheran bersedia kembali ke meja perundingan.
Trump menegaskan harapannya agar Iran menyepakati perjanjian yang ia sebut “adil dan merata”, dengan syarat utama penghentian total pengembangan senjata nuklir. Namun, pernyataan itu juga disertai ancaman terbuka.
Presiden AS memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan militer lanjutan yang disebutnya “jauh lebih buruk” dibandingkan operasi sebelumnya terhadap Iran.
Pertaruhan Stabilitas Kawasan
Kombinasi tekanan militer AS dan tawaran diplomatik Rusia memperlihatkan bahwa isu nuklir Iran kembali menjadi arena pertarungan pengaruh global. Bagi Rusia, peran sebagai mediator bukan hanya soal stabilitas regional, tetapi juga upaya mempertahankan posisi strategisnya di tengah rivalitas dengan Amerika Serikat.
Sementara bagi Iran, setiap opsi yang ditawarkan—baik tekanan maupun kompromi—akan menentukan arah kebijakan nasionalnya dalam menghadapi isolasi, sanksi, dan risiko konflik terbuka.(*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Rusia Tawarkan Peran Penyeimbang di Tengah Ketegangan AS–Iran
| Pewarta | : Imadudin Muhammad |
| Editor | : Imadudin Muhammad |