TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada Selasa (3/2/2026) pagi, di tengah sikap pelaku pasar yang masih mencermati komitmen penguatan transparansi di pasar modal nasional.
IHSG terkoreksi 42,25 poin atau 0,53 persen ke level 7.880,47. Berbeda arah, indeks saham unggulan LQ45 justru menguat 2,89 poin atau 0,36 persen ke posisi 809,13.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak melemah secara terbatas.
“Rentang pergerakan berada di area support 7.790 dan resistance 8.270. Peluang penguatan mulai terbuka, namun pasar tetap rawan pergerakan semu,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dari sisi domestik, Nico menyoroti langkah-langkah strategis yang ditempuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sinyal positif bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.
Penurunan batas kewajiban keterbukaan kepemilikan saham hingga di atas 1 persen, disertai pengungkapan pemilik manfaat (beneficial owner), dinilai dapat memperkecil risiko kepemilikan tersembunyi yang selama ini menjadi sorotan lembaga global seperti MSCI.
Selain itu, penguatan klasifikasi investor dinilai memberi gambaran struktur pasar yang lebih jelas, sehingga mendukung pengukuran risiko dan likuiditas secara lebih akurat.
Rencana peningkatan porsi free float minimum menjadi 15 persen secara bertahap juga diperkirakan mampu memperdalam likuiditas dan memperluas basis investor, meskipun berpotensi menimbulkan penyesuaian jangka pendek bagi sebagian emiten.
“Jika dijalankan secara konsisten dan tepat waktu, kebijakan ini berpeluang memperbaiki persepsi MSCI terhadap Indonesia dan menarik arus dana asing jangka menengah hingga panjang,” kata Nico.
Namun, ia menegaskan pasar saat ini masih membutuhkan kebijakan jangka pendek yang efektif untuk meredam tekanan jual yang terjadi secara luas.
Dari luar negeri, sentimen positif datang dari Amerika Serikat. Data ISM Manufacturing tercatat melonjak dari 47,9 menjadi 52,6, level tertinggi sejak 2022, didorong peningkatan pesanan baru dan aktivitas produksi.
Sementara dari Eropa, pelaku pasar menanti keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Wall Street ditutup menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,05 persen ke 49.407,66, S&P 500 menguat 0,54 persen ke 6.976,44, dan Nasdaq Composite naik 0,56 persen ke 23.592,11.
Mayoritas bursa Asia juga bergerak positif pagi ini. Indeks Nikkei melonjak 3,12 persen, Shanghai Composite naik 0,45 persen, Hang Seng menguat 0,16 persen, dan Strait Times naik 0,91 persen.(*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: IHSG Terkoreksi, Pasar Menanti Efek Nyata Transparansi Bursa
| Pewarta | : Hendarmono Al Sidarto |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |