Terlalu Banyak Gula dan Garam, Bisa Picu Kulit Bermasalah
Dermatolog ingatkan konsumsi gula, garam, dan gorengan saat puasa dapat ganggu skin barrier, picu jerawat dan kulit kering. Hidrasi cukup jadi kunci menjaga kesehatan kulit.
JAKARTA – Kebiasaan berbuka puasa dengan makanan manis dan asin ternyata bukan sekadar soal kalori. Dokter spesialis dermatologi mengingatkan, konsumsi gula dan garam berlebihan saat berbuka maupun sahur bisa membuat kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Dermatolog dr. Fitria Agustina, Sp.DVE menjelaskan bahwa pola makan tinggi gula dan garam dapat menarik cairan dari dalam sel, sehingga kulit lebih mudah mengalami dehidrasi dan gangguan lapisan pelindungnya (skin barrier). Kondisi ini membuat kulit lebih rentan terhadap berbagai masalah.
“Diet tinggi garam dan gula membuat sel kehilangan air, kulit jadi lebih kering, dan skin barrier terganggu. Ini bisa memperburuk kondisi yang disebut multi-layer hydration loss,” ujar dr. Fitria dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Dia menyampaikan bahwa masalah kulit seperti munculnya jerawat bisa terjadi pada pekan awal puasa, ketika tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan dan minum, yang berdampak pada hidrasi.
Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan, ia mengatakan, kondisi lapisan pelindung kulit bisa terganggu.
"Keluhan jerawat sering banget pada fase puasa itu di minggu pertama atau bahkan mungkin pertengahan minggu kedua karena hidrasi yang kurang," kata dr. Fitria.
"Hidrasi yang kurang itu akan berpengaruh terkait dengan skin barrier-nya, kulitnya jadinya akan lebih kering," kata dia.
Menurut dia, gangguan pada lapisan pelindung kulit juga memengaruhi keseimbangan mikrobioma pada kulit. Kalau mikroorganisme alami pada kulit dalam keadaan tidak seimbang atau mengalami disbiosis, maka jerawat dan masalah kulit yang lain berpeluang muncul.
"Enggak cuma jerawat, bisa lain yang dasarnya inflamasi, misalnya pada dermatitis atopik yang memang flare up-nya di wajah, atau rosacea, kondisi yang menyerupai jerawat, atau kondisi psoriasis, itu bisa jadi flare-up kalau memang kita tidak menjaga hidrasi kulit kita dengan baik, karena skin barrier-nya terganggu," ia memaparkan.
Dokter Fitria menyampaikan bahwa mengonsumsi gorengan berlebihan dapat meningkatkan peluang munculnya jerawat.
Ia mengatakan, tepung yang digunakan untuk membuat gorengan termasuk sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi yang berisiko memicu lonjakan insulin.
"Karbohidrat olahan seperti tepung itu akan membuat insulin peak-nya tuh tinggi pada saat kita buka puasa, akan berpengaruh terhadap kadar IGF-1, akan berpengaruh terhadap kerja dari sebosit, kelenjar minyak, menghasilkan minyak lebih banyak," ia menjelaskan.
Selain itu, menurut dia, kandungan minyak pada gorengan bisa memengaruhi produksi hormon seperti androgen, yang memengaruhi aktivitas kelenjar minyak pada kulit.
"Androgen juga salah satu hormon yang berteman dalam mempengaruhi kerja dari sebosit atau kelenjar minyak ini," katanya.
Oleh karena itu, dia mengatakan, sebaiknya tidak mengonsumsi terlalu banyak gorengan pada saat berbuka puasa.
"Bukan enggak boleh buka puasa pakai gorengan, tapi jangan banyak-banyak, diusahakan gorengannya dikeringin dulu," katanya.
Dokter Fitria menekankan pentingnya memperhatikan asupan cairan dan nutrisi agar kulit tetap sehat selama menunaikan ibadah puasa.
Pengaturan minum bisa dilakukan dari waktu berbuka puasa sampai sahur agar jumlah cairan yang dikonsumsi setidaknya delapan gelas sehari.
Dokter Fitria menyarankan pemilihan makanan bergizi yang tidak terlalu tinggi garam dan gula untuk berbuka puasa maupun sahur guna memenuhi kebutuhan gizi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



