Semua Berharap THR
Jika THR mampu mempererat hubungan, mengurangi beban, dan menumbuhkan syukur, maka ia bukan sekadar tunjangan melainkan jembatan menuju keberkahan.
JAKARTA – Menjelang hari raya, satu kata yang paling sering terdengar di ruang kantor, grup keluarga, hingga percakapan warung kopi adalah: THR. Tunjangan Hari Raya bukan lagi sekadar hak normatif pekerja, melainkan telah menjelma menjadi fenomena sosial.
Semua berharap THR. Pegawai menunggu dari perusahaan, keluarga berharap dari kerabat yang bekerja, bahkan pelaku usaha kecil menanti lonjakan belanja dari peredaran dana THR.
Awalnya, THR dirancang sebagai bentuk apresiasi sekaligus bantuan agar pekerja dapat merayakan hari besar keagamaan dengan layak. Ia adalah instrumen kesejahteraan yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Namun dalam perkembangannya, THR berubah menjadi momen ekonomi musiman yang dinanti-nanti oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Bagi pekerja, THR sering kali menjadi “napas tambahan” di tengah tekanan biaya hidup. Cicilan, kebutuhan pokok, dan pengeluaran tak terduga membuat banyak orang menggantungkan rencana belanja lebaran pada dana ini. Tidak sedikit yang sudah membuat daftar belanja jauh hari sebelum THR cair. Dari baju baru, tiket mudik, hingga gawai terbaru semuanya masuk hitungan.
Di sisi lain, keluarga besar juga memiliki ekspektasi. Ada budaya berbagi kepada orang tua, keponakan, atau sanak saudara. Tradisi ini sejatinya indah, karena menguatkan tali silaturahmi.
Namun dalam praktiknya, tidak jarang muncul tekanan sosial terselubung. Seolah-olah seseorang dianggap “berhasil” jika mampu membagi amplop lebih tebal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa THR bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal persepsi sosial. Hari raya sering diposisikan sebagai ajang unjuk capaian.
Rumah harus terlihat lebih rapi, hidangan lebih berlimpah, pakaian lebih baru. Padahal esensi perayaan adalah syukur dan kebersamaan, bukan kompetisi gaya hidup.
Menariknya, dampak THR tidak berhenti pada level individu. Secara makro, pencairan THR memicu perputaran ekonomi yang signifikan. Sektor ritel, transportasi, pariwisata, hingga UMKM merasakan efeknya.
Pasar menjadi lebih ramai, transaksi meningkat, dan optimisme ekonomi tumbuh. Dalam konteks ini, THR berfungsi sebagai stimulus konsumsi yang efektif.
Baca juga
Namun di balik geliat itu, ada risiko yang perlu dicermati: perilaku konsumtif sesaat. Ketika THR habis dalam hitungan hari untuk belanja yang kurang prioritas, sebagian orang kembali pada kondisi finansial yang sama, bahkan lebih tertekan. Euforia belanja sering mengalahkan perencanaan keuangan.
Fenomena “semua berharap THR” juga menyentuh mereka yang berada di sektor informal. Tidak semua pekerja menerima tunjangan resmi. Buruh harian, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro sering kali hanya bisa berharap pada peningkatan omzet menjelang hari raya. Di sinilah terlihat kesenjangan perlindungan sosial yang masih perlu dibenahi.
Selain itu, muncul pula perdebatan ketika THR bagi aparatur negara atau pejabat dibahas di ruang publik. Sebagian masyarakat mendukung sebagai hak normatif, sebagian lain mengkritik ketika kondisi ekonomi sedang sulit. Perdebatan ini mencerminkan sensitivitas sosial terhadap keadilan distribusi.
Yang perlu direnungkan, apakah kita memaknai THR sebagai sarana memperkuat nilai berbagi, atau sekadar tambahan daya beli? Jika THR dimanfaatkan untuk melunasi utang, menabung, atau membantu yang lebih membutuhkan, ia menjadi berkah berlipat. Namun jika hanya habis untuk memenuhi gengsi sesaat, maknanya menjadi dangkal.
Momentum THR seharusnya juga menjadi pengingat pentingnya literasi keuangan. Mengatur prioritas, membagi antara konsumsi, tabungan, dan sedekah, adalah bentuk kedewasaan finansial. Hari raya datang setiap tahun; kebijaksanaan dalam mengelola rezeki akan menentukan kualitas hidup jangka panjang.
Fenomena semua berharap THR adalah cermin dinamika sosial kita. Ia menunjukkan harapan, kebutuhan, bahkan tekanan yang hidup di tengah masyarakat. THR memang penting, tetapi jangan sampai ia menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan menjelang hari raya.
Karena sejatinya, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa besar tunjangan yang diterima, melainkan seberapa bijak kita mengelolanya dan seberapa tulus kita berbagi.
Jika THR mampu mempererat hubungan, mengurangi beban, dan menumbuhkan syukur, maka ia bukan sekadar tunjangan melainkan jembatan menuju keberkahan.
***
*) Oleh : Raga Arya, International Master Student in Republic of China.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



