https://jakarta.times.co.id/
Opini

Kepemimpinan dan Tantangan Abad Kedua NU

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:17
Kepemimpinan dan Tantangan Abad Kedua NU Hendra, Anak Muda NU.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan dunia, NU lahir bukan dari ruang kekuasaan, melainkan dari denyut kehidupan umat di akar rumput. Sejarah NU adalah sejarah dakwah kultural dakwah yang menyatu dengan tradisi, merawat kearifan lokal, dan membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin dalam realitas sosial masyarakat Nusantara.

Namun, memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan zaman yang jauh lebih kompleks. Globalisasi, disrupsi teknologi, perubahan sosial-politik, serta meningkatnya ekspektasi publik menuntut NU untuk melakukan lompatan besar: dari kekuatan kultural semata menuju profesionalisasi kepemimpinan yang sistematis, modern, dan berintegritas tanpa kehilangan jati diri.

Sejak didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 1926, NU menempatkan dakwah sebagai proses peradaban, bukan sekadar syiar verbal. Dakwah NU tumbuh melalui pesantren, masjid, majelis taklim, dan tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat seperti tahlilan, maulidan, dan selametan. Inilah kekuatan NU: Islam yang ramah, inklusif, dan kontekstual.

Pendekatan kultural ini terbukti efektif dalam menjaga Islam Nusantara tetap moderat, sekaligus menjadi benteng terhadap radikalisme dan puritanisme yang kerap memutus relasi antara agama dan budaya. Dari desa ke desa, NU membangun kepercayaan umat modal sosial yang kelak menjadi fondasi kuat bagi peran NU di tingkat nasional.

Seiring perjalanan sejarah bangsa, NU tidak hanya hadir sebagai kekuatan sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam dinamika kebangsaan. NU berperan besar dalam resolusi jihad, mempertahankan kemerdekaan, hingga mengawal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di sinilah NU mulai bertransformasi: dari kekuatan moral (moral force) menjadi kekuatan strategis (strategic force). Banyak kader NU hadir dalam kepemimpinan nasional di eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga birokrasi. Namun, tantangan abad kedua bukan sekadar soal representasi, melainkan kualitas dan profesionalisme kepemimpinan.

Sebagai anak muda NU, saya melihat tantangan terbesar NU hari ini adalah bagaimana menjaga ruh keikhlasan dan khidmah, sambil membangun tata kelola organisasi dan kepemimpinan yang profesional.

Profesionalisasi bukan berarti menanggalkan tradisi, tetapi memastikan bahwa amanah dijalankan dengan kapasitas, transparansi, dan akuntabilitas.

NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya alim secara keilmuan, tetapi juga cakap secara manajerial, visioner dalam membaca zaman, dan berani mengambil keputusan strategis. 

Tantangan global menuntut NU untuk berbicara tentang ekonomi umat, lingkungan hidup, teknologi digital, keadilan sosial, dan geopolitik dengan pendekatan keislaman yang solutif.

Di sinilah peran anak muda NU menjadi krusial. Generasi muda NU harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pelanjut tradisi, tetapi sebagai inovator peradaban. Kaderisasi harus melahirkan pemimpin yang berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, namun berpikiran terbuka dan adaptif terhadap perubahan.

Memasuki abad kedua, NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi menjadikannya pijakan untuk melompat lebih jauh. Khittah NU harus tetap menjadi kompas moral, sementara profesionalisasi kepemimpinan menjadi kendaraan untuk memperluas manfaat bagi umat dan bangsa.

NU yang kuat adalah NU yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara dakwah kultural dan kepemimpinan struktural, antara keikhlasan dan profesionalisme. Jika ini mampu dijalankan, NU tidak hanya akan bertahan di abad kedua, tetapi menjadi penentu arah peradaban Indonesia bahkan dunia.

Sebagai anak muda Nahdlatul Ulama, saya percaya bahwa masa depan NU ada pada keberanian kita untuk berbenah, tanpa tercerabut dari akar sejarah dakwah yang telah diwariskan para masyayikh.

***

*) Oleh : Hendra, Anak Muda NU.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.