TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pembangunan kesehatan sejatinya bukan sekadar soal layanan medis atau distribusi bantuan sosial, melainkan bagian dari arsitektur pembangunan manusia yang menentukan kualitas peradaban bangsa. Ia berbicara tentang bagaimana negara merawat kehidupan sejak fase paling awal, ketika fondasi biologis, sosial, dan kognitif manusia mulai dibentuk.
Dalam kerangka ini, stunting tidak dapat dibaca semata sebagai indikator statistik, tetapi sebagai refleksi dari proses panjang yang dimulai jauh sebelum seorang anak lahir. Ia tumbuh dari kondisi gizi remaja, kesiapan kehamilan, kualitas lingkungan, sanitasi, pola asuh keluarga, serta literasi kesehatan masyarakat.
Secara ilmiah, fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sejak pra-kehamilan, masa kehamilan, hingga usia dua tahun merupakan fondasi biologis pembentukan manusia. Pada fase inilah pertumbuhan otak, sistem metabolik, dan struktur tubuh anak dibentuk secara fundamental. Kerusakan pada fase ini bersifat irreversibel dan tidak sepenuhnya dapat dipulihkan pada tahap kehidupan berikutnya.
Karena itu, pencegahan stunting sejati tidak dimulai di sekolah, tetapi pada kesehatan remaja putri, kesiapan kehamilan, kualitas gizi ibu, sanitasi lingkungan, dan pola asuh keluarga. Di sinilah negara sesungguhnya membangun masa depan bangsa bukan pada fase akhir, tetapi pada fase awal kehidupan.
Dalam setahun terakhir, negara menunjukkan komitmen kuat dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat melalui kebijakan strategis program berbasis gizi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah penting dalam memperkuat ketahanan gizi sosial, kualitas konsumsi, dan pembangunan sumber daya manusia.
Dalam perspektif kebijakan publik, penting untuk memahami bahwa intervensi gizi bekerja pada tahapan kehidupan yang berbeda. Di sinilah muncul persoalan konseptual yang sering luput dibicarakan secara jernih: adanya perbedaan antara kelompok usia penerima program gizi dan fase biologis kritis pencegahan stunting.
Secara biologis, stunting dicegah pada fase pra-kehamilan hingga usia dua tahun. Sementara itu, banyak program gizi populasi menjangkau kelompok usia yang lebih luas, termasuk anak usia sekolah. Kedua pendekatan ini sama-sama penting, tetapi berada pada tahap intervensi yang berbeda dalam siklus kehidupan manusia.
Perbedaan ini bukan kesalahan kebijakan, melainkan tantangan desain sistem. Namun, jika tidak disadari dan diintegrasikan, ia dapat menciptakan ilusi bahwa satu program mampu menyelesaikan seluruh spektrum persoalan gizi dan stunting sekaligus.
Dalam konteks inilah, Program MBG perlu ditempatkan secara jernih dan proporsional. MBG bukanlah program pencegahan stunting secara biologis, karena fungsi utamanya berbeda. MBG berperan sebagai program proteksi gizi populasi, yang bertujuan mencegah malnutrisi dan memperkuat kualitas konsumsi generasi bangsa secara luas.
Malnutrisi sendiri memiliki dampak serius terhadap daya tahan tubuh, perkembangan kognitif, kapasitas belajar, kerentanan penyakit, serta produktivitas jangka panjang. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, pencegahan malnutrisi adalah agenda strategis nasional yang tidak bisa diremehkan.
Dengan demikian, MBG memiliki fungsi penting dalam membangun ketahanan gizi generasi, tetapi tidak dapat diposisikan sebagai solusi utama stunting, karena wilayah biologis pencegahan stunting berada pada fase kehidupan yang lebih awal, yaitu pra-kehamilan hingga usia dua tahun.
Dalam kerangka pembangunan manusia, perbedaan tahap intervensi ini tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi disusun dalam satu ekosistem kebijakan yang terintegrasi. Program gizi populasi berfungsi sebagai proteksi sosial dan penguatan kualitas konsumsi, sementara sistem 1000 HPK berfungsi sebagai pencegahan biologis stunting.
Keduanya bukan kompetitor, melainkan komplemen, selama ditempatkan dalam arsitektur kebijakan yang tepat. Inilah pergeseran orientasi yang dibutuhkan: dari program sektoral menuju sistem pembangunan manusia, dari intervensi terpisah menuju rantai perlindungan kehidupan, dari respons jangka pendek menuju visi lintas generasi.
Pencegahan stunting yang efektif harus dibangun dalam sebuah rantai intervensi berjenjang, pra-konsepsi, kehamilan, bayi, balita, anak, remaja, hingga dewasa. Dalam rantai ini, setiap fase memiliki fungsi strategis. Tidak ada satu fase pun yang berdiri sendiri.
Kegagalan pada satu mata rantai akan melemahkan seluruh sistem perlindungan kehidupan. Karena itu, pembangunan gizi nasional harus bergerak dari pendekatan berbasis program menuju pendekatan berbasis siklus kehidupan manusia.
Pendekatan konstruktif dan aplikatif dapat ditempuh melalui penguatan perlindungan 1000 HPK sebagai poros kebijakan kesehatan nasional, integrasi seluruh program gizi ke dalam sistem pembangunan manusia jangka panjang, pembangunan rantai intervensi berjenjang berbasis siklus kehidupan, penguatan literasi kesehatan keluarga dan sistem deteksi dini pertumbuhan.
Pembangunan tata kelola terpadu melalui satu sistem data, indikator bersama, dan koordinasi lintas sektor. Langkah-langkah ini realistis, aplikatif, dan dapat diimplementasikan secara bertahap tanpa menciptakan disrupsi kebijakan.
Pembangunan generasi sehat bukan proyek satu program, dan bukan pula agenda jangka pendek. Ia adalah proyek peradaban lintas generasi, lintas sektor, dan lintas kebijakan.
Ketika kebijakan gizi diletakkan dalam kerangka pembangunan manusia yang utuh, maka setiap program menemukan tempatnya, setiap intervensi menemukan fungsinya, dan setiap kebijakan saling menguatkan.
Generasi unggul tidak dibentuk oleh satu program, tetapi oleh sistem yang melindungi kehidupan sejak awalnya. Bukan oleh intervensi instan, tetapi oleh visi yang panjang, arsitektur yang kuat, dan kesadaran kolektif bangsa.
Dalam kerangka itulah MBG dan upaya penurunan stunting harus terus diarahkan bukan sebagai dua agenda yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari arsitektur besar pembangunan manusia Indonesia.(*)
***
*) Oleh : Dr. Cashtry Meher, Board of Experts Prasasti Center.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: MBG dan Stunting dalam Arsitektur Pembangunan Manusia
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |