Kopi TIMES

Bukan Lagi Bangsa Tempe

Selasa, 02 Maret 2021 - 19:23
130.30k
Bukan Lagi Bangsa Tempe Diana Dwi Susanti, S.ST, Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Jawa Tengah.

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Menikmati tempe goreng hangat diiringi suara hujan deras dari luar rumah sangatlah nikmat. Merenungi tentang tempe dan sejarahnya, terbayang tanaman kedelai yang tumbuh liar dan subur di bumi pertiwi. Penduduk dengan pakaian khas Jawa memanen kedelai dan sebagian dibungkus daun untuk dibuat tempe. Menunggu semalam untuk bisa diolah menjadi makanan yang siap disantap.

Saat ini, tempe masih menjadi makanan yang sangat mudah ditemui di setiap sudut manapun di Indonesia. Dari pasar sampai mall, pedagang kaki lima hingga restoran mewah tidak luput dari jenis makanan bernama tempe. Karena, setiap orang di negeri ini rata-rata mengkonsumsi tempe 7,4 kg per tahun (BPS,2020). 

Tempe menjadi makanan murah meriah yang melegenda sepanjang masa. Produk asli Indonesia yang sudah merambah dunia dan telah menjadi warisan budaya nasional. Bolehlah kalau Indonesia disebut Bangsa Tempe.

Bangsa Tempe

Dari berbagai literatur diketahui penyebutan tempe sudah ada pada Kidung Sri Tanjung masa abad 13 yang tertulis di relief Candi Penataran di Jawa Timur. Penyebutan tempe yang lebih jelas terdapat pada Serat Centhini dari abad 18. 

Tempe bukan begitu saja lahir menjadi lauk pauk seperti lauk hewani lainnya. Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan penduduk di Jawa yang tinggi. Walaupun tidak ada data yang menyebutkan secara pasti pertumbuhan penduduk di Jawa, namun bersumber dari sejarawan Ong Hok Ham dalam artikelnya menyebutkan kota-kota pelabuhan terbesar di Nusantara berpenduduk 50.000-100.000 jiwa. Ini lebih padat dibandingkan kota-kota di dunia seperti London, New York dan Bristol yang berpenduduk hanya 10.000-40.000 jiwa (Tempo,1981). 

Penduduk yang besar dan peraturan kerja yang diterapkan oleh Van Den Bosch dengan mengharuskan seluruh rakyat menanam tanam-tanaman perkebunan seperti karet dan tebu, menjadikan krisis pangan melanda. Rakyat yang kelaparan dan kehilangan padinya  sebagai akibat berebut dengan jam kerja rodi, membuat mereka makan-makanan yang gampang tumbuh seperti ubi, singkong dan kedelai. Kedelai ini diolah menjadi tempe dan menjadi makanan yang amat terkenal pada masa krisis. 

Tempe dianggap sebagai makanan prihatin, makanan kelas bawah. Hanya rakyat jelata yang sering mengolah makanan ini. Maka timbul istilah "bangsa tempe" atau "mental tempe." Perumpaan kata yang sebenarnya merendahkan bangsa Indonesia. Bahkan Bung Karno sendiri pernah berteriak di depan ratusan ribu pendengarnya :”Janganlah kita sekali-sekali menjadi Bangsa Tempe”. 

Namun dibalik itu semua, tempe adalah makanan sehat dengan protein nabati yang tinggi tanpa lemak. Bahkan kandungan proteinnya melebihi telur. Hal ini menyebabkan rakyat jelata bertahan hidup di tengah kesengsaraan kerja rodi.

Ironis sebagai Bangsa Tempe

Seiring dengan perkembangan waktu keberadaan tempe telah diakui oleh berbagai kalangan dari belahan dunia. Koki dunia memvariasikan tempe menjadi hidangan lezat dan menyebutnya sebagai magic food. Tempe dengan kandungan proteinnya kerap kali dimanfaatkan oleh mereka pelaku hidup vegan untuk menggantikan daging dalam menu makanan mereka.

Tempe yang dikenal sebagai makanan asli Indonesia hanya cerita sejarah. Karena tempe jaman dahulu dengan masa sekarang berbeda. Kalau dulu, bangsa Indonesia mengandalkan tempe, karena bahan baku kedelai yang sangat mudah didapat.

Namun pada saat ini, industri tempe tergantung dengan pasar impor. Kebutuhan kedelai dalam negeri berkisar antara 3 sampai 4 juta ton kedelai per tahun (BPS,2020). Produksi dalam negeri hanya mampu mencukupi 0,3 juta ton. Kebutuhan kedelai 90% diimpor dari Amerika. 

Sejak kran impor dibuka tahun 1998, kedelai petani lokal bersaing dengan kedelai impor. Tentu petani Indonesia bukan menjadi pesaing yang handal. Proses produksi yang masih sederhana dengan ongkos yang mahal masih bergelut dengan produktivitas tanah yang semakin menurun menambah suram petani kedelai Indonesia. Ditambah harga kedelai impor yang murah, membuat petani semakin enggan mengusahakan jenis tanaman ini. Apalagi iming-iming alih fungsi lahan dari industri maupun rumah tangga semakin menjauhkan petani dari aktivitas bercocok tanam. 

Praktis saat ini, industri tempe Indonesia sangat tergantung oleh impor luar negeri. Duh, bagaimana kalau Amerika sudah tidak lagi berkeinginan mengekspor kedelai? Bagaimana kalau tidak ada negara yang bersedia mengekpor kedelai ke Indonesia?

Bagaimana nasib bangsa Bangsa Tempe? Tempe akan menjadi barang mahal. Bukan lagi makanan rakyat jelata. Bukan lagi makanan orang prihatin seperti yang diceritakan sejarah pada jaman dahulu.

Apalagi kalau Amerika menguasai proses pembuatan tempe. Bagaimana kalau Amerika hanya ingin mengekspor tempe bukan kedelai? Tentu dengan harga yang mahal. 

Jika Indonesia tidak berbenah dengan pertanian, masalah tempe akan menjadi masalah besar. Bisa saja tempe sebagai warisan budaya Indonesia tidak akan pernah diakui oleh dunia. Karena bahan baku tempe bukan berasal dari Indonesia.

Sambil masih mengunyah gurihnya tempe dan terlintas pikiran nakal. Apakah kita ingin lepas dari "bangsa tempe?" Membayangkan saja tidak berani. Mungkin suatu saat, tempe akan menjadi barang langka. Menjadi barang impor dan hanya tersedia di restoran mahal.

Tentu tidak akan ada lagi yang melecehkan tempe. Bahkan orang akan bangga dengan sebutan bangsa tempe karena harganya yang mahal. Dan saat itu Indonesia Bukan Lagi Bangsa Tempe.

***

*)Oleh: Diana Dwi Susanti, S.ST, Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Jawa Tengah.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta :
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.