PP Pemuda Muhammadiyah: Klaim Donald Trump Iran Menyerah Hanya Retorika Politik
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Emaridial Ulza mengkritik klaim Donald Trump yang menyebut Iran menyerah. Ia menilai pernyataan itu hanya retorika politik dan mendorong Indonesia menjadi mediator konflik.
Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim bahwa Iran telah menyerah dan meminta maaf atas serangan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Sabtu (7/3/2026), Presiden ke-47 AS tersebut juga melontarkan ancaman untuk menggempur Iran lebih keras jika aksi serupa terulang.
Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri, Emaridial Ulza, menilai pernyataan Trump tidak menggambarkan situasi geopolitik yang sebenarnya.
Emaridial menyebut pernyataan tersebut sekadar retorika politik dan bukan cerminan fakta di Timur Tengah saat pertempuran masih berkecamuk. "Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (8/3/2026).
Akademisi Uhamka ini menambahkan, pernyataan Trump mengandung kontradiksi yang mengindikasikan kompleksitas situasi di lapangan. Menurutnya, ada kemungkinan pihak Amerika Serikat justru dalam keadaan terdesak.
Ia menjelaskan bahwa dalam konflik internasional, deklarasi kemenangan sepihak sering digunakan sebagai strategi negosiasi untuk membangun opini publik. Pola ini serupa dengan pendekatan Trump pada negosiasi dagang dengan Tiongkok, krisis Korea Utara, hingga konflik Timur Tengah sebelumnya.
Bagi Emaridial, klaim Iran “telah menyerah” merupakan framing untuk konsumsi domestik guna membangun narasi triumfalis di hadapan rakyat AS dan dunia, bukan deskripsi akurat kondisi lapangan.
“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik," tuturnya.
Ia juga menyoroti sikap negara sekutu seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman yang enggan terlibat langsung dalam perang ini. Kondisi tersebut, menurutnya, memperkuat indikasi bahwa Trump sebenarnya membutuhkan negosiasi.
Peran Indonesia sebagai Penengah
Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berpendapat bahwa saat ini AS mulai terdesak, sementara pihak Iran juga memerlukan penengah. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, dinilai memiliki posisi strategis untuk menggalang pertemuan melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun pendekatan ke negara-negara Timur Tengah lainnya.
"Indonesia berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga bagian dari BRICS. Posisi ini bisa menjadikan Indonesia penghubung, setidaknya melalui niat baik Presiden Prabowo untuk mengurangi ketegangan dengan segala konsekuensi yang ada," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



