TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pasar modal Indonesia bersiap memasuki fase penting pada 2026 seiring berakhirnya masa jabatan jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022–2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kepemimpinan baru BEI harus memiliki pemahaman mendalam terhadap dinamika pasar, sekaligus komitmen kuat untuk memberantas praktik manipulasi harga saham atau yang dikenal sebagai saham gorengan.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya menjelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BEI yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026 dilansir Antara, Jumat (2/1/2026). Menurutnya, keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari kenaikan indeks, tetapi juga dari kualitas dan integritas transaksi yang berlangsung di dalamnya.
Ia menilai perlu adanya upaya sistematis untuk memperluas basis investor ritel dan institusi, namun langkah tersebut harus dibarengi dengan pembersihan pasar dari pelaku tidak bertanggung jawab yang merusak kepercayaan publik.
Insentif Fiskal Menanti, Syaratnya Pasar Harus Bersih
Purbaya juga menyinggung komitmen pemerintah dalam mendukung penguatan pasar modal melalui berbagai instrumen kebijakan. Ia membuka peluang pemberian insentif dari Kementerian Keuangan kepada BEI, namun dengan syarat yang tegas dan terukur.
Menurutnya, insentif tidak akan diberikan tanpa capaian nyata. Pemerintah ingin melihat hasil konkret berupa penindakan terhadap praktik penggorengan saham serta perbaikan tata kelola pasar secara menyeluruh.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong BEI untuk lebih agresif dalam pengawasan dan penegakan aturan, sehingga iklim investasi di pasar modal semakin sehat dan kredibel.
Optimisme IHSG Menuju Level 10.000
Sejalan dengan agenda penataan pasar, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat signifikan pada 2026. Ia menyebut level 10.000 bukanlah target yang mustahil dicapai dalam kondisi ekonomi yang tepat.
Optimisme tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa fondasi ekonomi nasional terus menguat, ditopang oleh koordinasi kebijakan yang semakin solid antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait lainnya.
Ia juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang mencapai 6 persen secara tahunan, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan tercatat dan daya tarik pasar saham di mata investor domestik maupun global.
Sinkronisasi Kebijakan Dorong Kepercayaan Investor
Menurut Purbaya, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Ia menegaskan bahwa pada 2026, kebijakan ekonomi akan berjalan lebih optimal karena dirancang dan dieksekusi secara penuh sepanjang tahun.
Kondisi tersebut diyakini mampu meningkatkan kepastian usaha, memperbaiki ekspektasi pelaku pasar, serta mendorong arus investasi ke sektor riil maupun pasar keuangan.
Ia pun mengingatkan investor untuk jeli membaca momentum, karena peluang pertumbuhan dinilai masih terbuka lebar seiring perbaikan fundamental ekonomi nasional.
BEI Pasang Target Masuk 10 Besar Bursa Dunia
Di sisi lain, PT Bursa Efek Indonesia menyiapkan langkah strategis jangka menengah melalui Masterplan BEI 2026–2030. Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan target membawa BEI masuk jajaran 10 besar bursa efek dunia dalam lima tahun ke depan, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi.
Untuk mendukung ambisi tersebut, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp15 triliun pada 2026, seiring peningkatan aktivitas dan kedalaman pasar.
Selain transaksi, BEI juga mematok target agresif di sisi pencatatan efek. Sepanjang 2026, BEI menargetkan 555 pencatatan efek baru, termasuk 50 saham baru yang diharapkan dapat menambah variasi dan kualitas pilihan investasi di pasar modal.
BEI juga berfokus pada peningkatan jumlah investor dengan target penambahan sekitar dua juta investor baru. Upaya ini akan ditempuh melalui penguatan literasi, pemanfaatan berbagai kanal distribusi informasi, serta perluasan akses masyarakat terhadap produk pasar modal.
Iman menegaskan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari emiten, anggota bursa, regulator, hingga komunitas investor.
Sinergi Jadi Kunci Penguatan Pasar Modal
Baik pemerintah maupun BEI sepakat bahwa masa depan pasar modal Indonesia sangat bergantung pada sinergi dan konsistensi kebijakan. Penataan kepemimpinan, penegakan aturan, pertumbuhan indeks, hingga ambisi global ditempatkan dalam satu kerangka besar penguatan pasar modal nasional.
Dengan agenda bersih-bersih pasar, target IHSG yang agresif, serta visi menjadi bursa kelas dunia, 2026 diproyeksikan menjadi tahun krusial bagi transformasi pasar modal Indonesia. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Peta Besar Pasar Modal 2026: Saham Gorengan Disikat, IHSG Didorong 10.000, BEI Kejar Top Global
| Pewarta | : Hendarmono Al Sidarto |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |