TIMES JAKARTA, MALANG – Amerika Serikat inginnya selalu membatalkan pembicaraan dengan Iran dan ingin menyerang Iran, tetapi negara-negara Arab dan Muslim tidak tinggal diam, dan justru menekannya agar bersedia melanjutkannya pembicaraan dan mau mendengarkan Iran.
Tekanan itu dilakukan karena Amerika Serikat selalu memaksakan kehendaknya sendiri dalam menekan Iran untuk tidak melanjutkan program nuklirnya dan selalu mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran.
Namun seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, bahwa pembicaraan dengan Iran akhirnya akan kembali dilanjutkan sesuai rencana setelah adanya tekanan dari sembilan pemimpin negara-negara Arab dan Muslim.
Mengutip Axios, Al Jazeera melansir bahwa menurut seorang pejabat AS, rencana pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran akan diselenggarakan di Muscat, ibukota kesultanan Oman, Jumat (6/2/2026) besok.
Pembicaraan itu nyaris digagalkan Amerika Serikat.
Menurut situs web tersebut, para pemimpin negara-negara Arab dan Islam telah minta pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk tetap menyelenggarakan pertemuan tersebut dan tidak membatalkannya, serta memberikan kesempatan untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan Iran.
Seorang pejabat AS pun menyatakan bahwa pemerintahan Trump akhirnya setuju untuk mengadakan pertemuan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaan sekutu-sekutunya di kawasan itu.
Axios mencatat, sembilan negara di kawasan itu mengirim pesan kepada pemerintahan AS, mendesak agar tidak membatalkan pembicaraan Muscat, dalam upaya untuk mempertahankan jalur diplomatik.
Pembicaraan akan diadakan di Oman, seperti yang di insisted Iran, meskipun Amerika Serikat awalnya menolak untuk mengubah rencana awal, yang maunya diadakan di Istanbul, Turki.
"Khamenei seharusnya khawatir."
Perkembangan ini terjadi beberapa saat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran tentang opsi militer, menyusul laporan bahwa negosiasi yang dijadwalkan pada hari Jumat telah gagal.
Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan Reuters, Trump mengatakan, bahwa seharusnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei merasa "sangat khawatir," karena Amerika Serikat telah memantau dengan cermat pergerakan Iran.
Trump juga menambahkan, bahwa Iran sedang berupaya memulai kembali program nuklirnya. "Kami akan mengirimkan jet tempur lagi jika mereka melakukannya," katanya.
Trump menekankan bahwa negaranya tidak akan berhasil mencapai perdamaian di Timur Tengah jika kemampuan nuklir Iran tidak dihancurkan.
Trump juga menegaskan, Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran membangun kembali kemampuan tersebut.
Tak lama setelah pernyataan Trump itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengumumkan bahwa pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan akan berlangsung di Muscat, Oman sekitar pukul 10 pagi pada hari Jumat.
Dalam unggahannya di akun X, Araghchi menambahkan bahwa ia berterima kasih kepada warga Oman karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan.
Utusan AS, Steve Wittkopf, bersama dengan menantu Trump yang dijadikan sebagai penasihat Presiden Trump, Jared Kushner, diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Qatar pada hari Kamis hari ini untuk melakukan pembicaraan tentang Iran dengan perdana menteri. Dari sana mereka kemudian akan terbang ke Oman untuk bertemu dengan pihak Iran.
AS Inginkan Perang
Sementara itu Teheran Times melansir, hanya sedikit warga Iran yang menyatakan optimisme tentang usulan pembicaraan di Oman tersebut dengan asumsi Amerika Serikat tidak menggagalkannya melalui langkah tak terduga dalam beberapa jam mendatang.
"Terakhir kali kita duduk di meja perundingan, kita justru dibom di tengah-tengah pembicaraan," kata seorang pria berusia 40-an di sebuah warung makan di luar sebuah masjid di selatan Teheran.
"Namun, saya rasa menghadiri perundingan bukanlah sebuah kesalahan," tambahnya. "Ini menunjukkan kepada kawasan bahwa Iran mendukung diplomasi. Tetapi saya tidak percaya kesepakatan nyata dengan Amerika mungkin terjadi. Pada akhirnya, saya pikir Amerika Serikat menginginkan perang," katanya lagi.(*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Imadudin Muhammad |