TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang ingin sukses tanpa proses. Ingin terlihat hebat tanpa benar-benar ditempa. Ingin dihormati tanpa melewati jalan sunyi bernama belajar. Padahal hidup tidak pernah memberi hadiah kepada mereka yang hanya pandai berharap.
Hidup hanya tunduk kepada orang-orang yang gigih, yang sanggup jatuh berkali-kali tetapi tetap bangkit, yang sanggup lelah namun tidak menyerah. Belajar adalah bentuk kesetiaan manusia kepada masa depannya.
Kegigihan dalam belajar bukan sekadar duduk di ruang kelas, membaca buku, atau menghafal teori. Belajar sejatinya adalah keberanian untuk terus bertumbuh, meski dunia berkali-kali membuat kita merasa kecil.
Belajar adalah proses panjang mengikis ego, mengasah pikiran, dan merawat rasa ingin tahu. Ia seperti menanam pohon di musim kemarau: membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa suatu saat akan tumbuh rindang.
Orang yang gigih belajar tidak selalu terlihat mencolok. Ia mungkin tidak ramai di panggung, tidak viral di media sosial, tidak banyak bicara tentang prestasi. Namun ia bekerja dalam diam. Ia menyalakan lampu saat orang lain tertidur. Ia menulis ketika yang lain tertawa. Ia menahan malas ketika yang lain menuruti nyaman. Dan dari proses itulah, ilmu perlahan-lahan datang seperti embun yang jatuh tanpa suara. Kegigihan adalah kesabaran yang diberi nyawa.
Namun belajar saja tidak cukup. Sebab ilmu bukan hiasan untuk dipamerkan, melainkan bekal untuk menuntun kehidupan. Ilmu adalah cahaya, tetapi cahaya itu bisa menjadi bencana jika berada di tangan orang yang salah. Kita sering melihat orang berilmu tetapi tidak punya kebijaksanaan.
Banyak yang cerdas namun kehilangan nurani. Banyak yang pandai bicara tetapi tidak mampu menjaga lisan. Bahkan ada yang menjadikan ilmunya sebagai alat untuk menipu, menguasai, atau menindas. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan.
Karena itu, berilmu bukan sekadar menguasai pengetahuan, melainkan mengerti bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk kebaikan. Berilmu berarti mampu membaca situasi, memahami konteks, dan menempatkan diri dengan rendah hati.
Orang yang benar-benar berilmu justru semakin sadar bahwa dirinya belum seberapa. Semakin banyak ia belajar, semakin ia paham bahwa samudra pengetahuan jauh lebih luas daripada dirinya.
Ilmu yang sejati tidak membuat manusia merasa paling tinggi, tetapi membuat manusia merasa semakin butuh belajar. Di sinilah letak ujian besar: apakah ilmu kita menjadi cahaya yang menerangi, atau bara yang membakar?
Lebih jauh lagi, puncak dari kegigihan belajar dan keluasan ilmu adalah pengabdian. Mengabdi adalah tanda bahwa ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke tangan dan kaki, lalu bergerak menjadi kerja nyata.
Mengabdi adalah kemampuan untuk menjadikan diri berguna bagi orang lain, bagi masyarakat, dan bagi bangsa. Ia bukan sekadar slogan di spanduk seminar atau tema kegiatan organisasi, melainkan sikap hidup yang menuntut ketulusan. Mengabdi berarti menyadari bahwa hidup tidak boleh hanya tentang diri sendiri.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Kampus-kampus melahirkan ribuan sarjana setiap tahun. Namun pertanyaannya: berapa banyak dari mereka yang pulang untuk membangun daerahnya? Berapa banyak yang memilih kembali ke desa, memperkuat pendidikan, mendampingi petani, membina anak-anak muda, atau menghidupkan ekonomi rakyat?
Sebagian besar justru berbondong-bondong mengejar kenyamanan kota, mengejar status sosial, mengejar kursi, mengejar gengsi, seakan-akan tanah kelahiran hanya tempat singgah, bukan tempat perjuangan. Padahal pengabdian adalah bukti bahwa ilmu memiliki arah.
Orang yang mengabdi tidak selalu mendapat tepuk tangan. Bahkan sering kali ia berjalan sendirian. Ia bekerja di tempat yang tidak dilirik kamera. Ia bergerak di ruang-ruang sunyi, di lorong-lorong masalah yang tidak menarik perhatian publik.
Tetapi justru dari pengabdian itulah kehidupan menjadi bermakna. Sebab ukuran keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita naik, tetapi seberapa banyak orang yang bisa kita bantu untuk ikut naik. Mengabdi adalah cara paling elegan untuk membayar hutang kehidupan.
Belajar, berilmu, dan mengabdi sejatinya adalah satu jalan panjang untuk menjadi manusia seutuhnya. Belajar melatih kesabaran. Ilmu membentuk cara berpikir. Pengabdian melatih keikhlasan. Ketiganya adalah trilogi kehidupan yang tidak boleh dipisahkan.
Jika seseorang hanya belajar tetapi tidak berilmu, ia akan tersesat. Jika seseorang berilmu tetapi tidak mengabdi, ia akan kering. Jika seseorang mengabdi tanpa ilmu, ia bisa salah arah. Maka hidup harus seimbang: kepala yang berpikir, hati yang merasakan, dan tangan yang bekerja.
Di era yang penuh kompetisi ini, kegigihan belajar adalah bentuk perlawanan terhadap kemalasan kolektif. Ketika banyak orang memilih jalan instan, kita memilih jalan panjang. Ketika banyak orang mengejar pengakuan, kita memilih memperdalam kemampuan. Ketika banyak orang sibuk mempercantik citra, kita sibuk memperbaiki kualitas diri.
Karena sesungguhnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh mereka yang hanya pandai bicara, melainkan oleh mereka yang mau belajar dengan gigih, berilmu dengan rendah hati, dan mengabdi dengan tulus.
Hidup ini bukan lomba siapa yang paling cepat, tetapi perjalanan siapa yang paling kuat bertahan. Dan dalam perjalanan itu, belajar adalah bekal, ilmu adalah kompas, dan pengabdian adalah tujuan. Sebab manusia yang paling mulia bukan yang paling banyak memiliki, melainkan yang paling banyak memberi.
***
*) Oleh : Raga Arya, International Master Student in Republic of China.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |