TIMES JAKARTA, JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meyakini kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan terhadap perekonomian nasional. Dampak tersebut terutama melalui peningkatan produktivitas serta akumulasi modal jangka panjang.
Optimisme itu disampaikan menyusul diperkenalkannya Danantara oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, Jumat (23/1/2026), mengatakan Danantara dirancang sebagai dana abadi pemerintah yang fokus membiayai sektor-sektor strategis. Sektor tersebut meliputi pendidikan, ketahanan pangan, hingga inovasi, dengan mengandalkan imbal hasil investasi berkelanjutan, bukan pembiayaan rutin dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Skema itu, menurut dia, mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Berdasarkan perhitungan Indef, reformasi berbasis Danantara menunjukkan dampak positif yang cukup kuat terhadap indikator makroekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat meningkat signifikan pada fase awal reformasi dan mencapai hampir tiga persen di atas baseline.
Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi tersebut berangsur stabil di kisaran dua persen, mencerminkan efek pertumbuhan yang bersifat persisten, bukan sekadar lonjakan sementara. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan stok kapital, penurunan pajak modal, serta kenaikan produktivitas.
Indef mencatat proses akumulasi modal dapat mendekati puncak tiga persen, menunjukkan mekanisme kapitalisasi yang kuat. Dari sisi konsumsi, konsumsi agregat meningkat secara bertahap hingga 1,5 persen, seiring dengan naiknya pendapatan riil dan produktivitas.
Meski dalam jangka pendek terjadi penyesuaian konsumsi akibat realokasi sumber daya menuju investasi produktif, Indef menilai pola tersebut konsisten dengan perilaku konsumsi antartemporal rumah tangga.
Sementara itu, dari sisi tenaga kerja, Indef mencatat adanya penurunan moderat sekitar 0,8 persen akibat efek substitusi antara kerja dan waktu luang (leisure). Namun, kondisi ini tidak mengganggu kinerja ekonomi secara keseluruhan karena pertumbuhan yang dihasilkan bersifat productivity driven.
Peningkatan total factor productivity (TFP) juga mendorong kenaikan produktivitas marjinal tenaga kerja yang pada akhirnya diterjemahkan menjadi upah riil yang lebih tinggi. Produktivitas yang meningkat memperbesar pendapatan dan keuntungan perusahaan, sehingga membuka ruang pemberian kompensasi yang lebih baik kepada pekerja.
Meski demikian, Esther menegaskan bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola. “Manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek, dan disiplin fiskal,” katanya.
Indef juga menyoroti pentingnya kebijakan pelengkap untuk mengelola dampak distribusional antar kelompok pendapatan. Program sosial yang terarah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dinilai dapat meredam dampak jangka pendek sekaligus memperkuat legitimasi reformasi ekonomi.
“Program sosial seperti MBG berpotensi meredam dampak jangka pendek dan memperkuat legitimasi reform,” ujar Esther.
Dalam forum WEF Davos 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Danantara merupakan instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, selain perdamaian dan stabilitas, pertumbuhan ekonomi mensyaratkan tata kelola negara serta pengelolaan modal yang efisien.
“Pada Februari lalu, kami membentuk sovereign wealth fund kami, Danantara Indonesia,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Presiden menjelaskan Danantara akan mengelola aset hingga 1 triliun dolar AS, yang diharapkan menjadi energi penggerak bagi masa depan perekonomian Indonesia. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Indef Optimistis Danantara Dongkrak Ekonomi Nasional
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |