https://jakarta.times.co.id/
Opini

Indonesia dari Jendela Dunia

Rabu, 21 Januari 2026 - 22:00
Indonesia dari Jendela Dunia Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Indonesia kerap memandang dirinya melalui cermin dalam negeri: angka pertumbuhan ekonomi, suhu politik, harga beras, dan hiruk-pikuk media sosial. Namun di luar sana, di balik samudra dan perbatasan, negeri ini dilihat dari jendela yang berbeda. Bukan dari baliho kampanye atau perdebatan di studio televisi, melainkan dari cara bangsa ini berdiri, berbicara, dan menepati janji di panggung global.

Di mata dunia, Indonesia bukan sekadar negara berkembang. Ia adalah rumah bagi ratusan juta manusia, ribuan pulau, dan satu ide besar bernama persatuan. Dunia membaca Indonesia sebagai eksperimen raksasa tentang bagaimana keberagaman bisa disatukan tanpa harus diseragamkan. Sebuah laboratorium sosial yang terus diuji oleh sejarah, konflik, dan kompromi.

Banyak diplomat asing menyebut Indonesia sebagai “negara penyeimbang”. Tidak terlalu keras memukul meja, tidak pula terlalu diam ketika keadilan dipertaruhkan. Dalam forum internasional, Indonesia sering hadir sebagai suara tengah: tidak larut dalam ekstrem, tidak tenggelam dalam diam. Posisi ini membuat Indonesia tampak seperti jembatan tidak selalu disorot, tetapi selalu dilewati.

Namun citra tidak dibangun hanya oleh pidato. Dunia juga membaca Indonesia dari cara warganya berperilaku, dari pekerja migran di negeri orang, dari mahasiswa di kampus luar negeri, dari atlet yang mengibarkan bendera merah putih, hingga dari komentar warganet yang kadang lebih cepat marah daripada berpikir.

Di satu sisi, Indonesia dikenal ramah. Senyum murah, solidaritas tinggi, dan kemampuan bertahan dalam kesulitan menjadi cerita yang sering diulang pelancong asing. Mereka pulang membawa kisah tentang orang-orang yang membantu tanpa banyak tanya, tentang desa yang miskin harta tetapi kaya empati.

Di sisi lain, dunia juga melihat sisi rapuh kita: birokrasi yang berliku, hukum yang kadang lunak ke atas dan keras ke bawah, serta kebiasaan menunda perubahan sambil berharap waktu akan menyelesaikan segalanya. Dalam laporan lembaga internasional, Indonesia sering dipuji karena potensinya, tetapi juga diingatkan karena pekerjaan rumahnya.

Dari luar, Indonesia tampak seperti kapal besar yang mesinnya kuat, tetapi kemudinya sering diperebutkan. Potensinya dikagumi, konsistensinya dipertanyakan. Stabilitasnya dihargai, kualitas demokrasinya terus diuji.

Soal demokrasi, Indonesia dipandang sebagai anomali yang menarik: mayoritas muslim, tetapi memilih jalan pemilu; beragam suku, tetapi relatif utuh; penuh perbedaan, tetapi jarang pecah menjadi perang saudara. Bagi sebagian negara, Indonesia adalah bukti bahwa demokrasi tidak harus beraksen Barat.

Namun dunia juga mencatat ketika kebebasan berekspresi dipersempit, ketika kritik dianggap ancaman, dan ketika hukum terasa seperti jaring laba-laba: kuat menjerat yang kecil, mudah robek saat yang besar menerobos.

Dalam ekonomi global, Indonesia dilihat sebagai raksasa yang baru bangun tidur. Sumber daya melimpah, pasar besar, dan posisi strategis menjadikannya incaran investor. Tetapi raksasa ini kadang berjalan lambat karena kakinya diikat oleh regulasi yang tumpang tindih dan kepastian hukum yang belum sepenuhnya tegak.

Dari luar, persoalan korupsi di Indonesia bukan sekadar berita, melainkan indeks. Ia diukur, dibandingkan, lalu dijadikan pertimbangan: apakah negeri ini tempat yang aman untuk menanam harapan, atau ladang yang masih penuh ranjau birokrasi.

Indonesia juga dibaca dari cara ia merawat lingkungan. Hutan yang terbakar, laut yang tercemar, dan konflik agraria menjadi catatan kaki dalam laporan dunia. Pada saat yang sama, komitmen energi hijau dan diplomasi iklim menjadi paragraf pembuka yang menjanjikan. Indonesia berdiri di antara pujian dan peringatan.

Menariknya, dunia sering lebih optimistis terhadap Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Banyak analis asing menulis tentang “bonus demografi”, “kekuatan kelas menengah”, dan “peran strategis Asia Tenggara”, sementara di dalam negeri kita masih sibuk berdebat soal siapa paling benar dan siapa paling berisik.

Indonesia di mata dunia adalah kemungkinan. Indonesia di mata sebagian warganya adalah keluhan. Di situlah jaraknya: antara harapan global dan keraguan domestik.

Mungkin sudah saatnya bangsa ini belajar melihat diri sendiri dari luar. Bukan untuk mencari pujian, tetapi untuk mengukur pantas tidaknya kita dengan citra yang terlanjur melekat. Dunia sudah memberi kepercayaan simbolik sebagai negara besar. Tinggal bagaimana Indonesia membalasnya dengan etika politik, keadilan hukum, dan keberanian membenahi diri.

Sebab pada akhirnya, reputasi negara bukan dibangun oleh slogan, melainkan oleh perilaku kolektif. Bukan oleh pidato satu jam, tetapi oleh keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Indonesia bisa terus dipandang sebagai harapan Asia Tenggara, atau berubah menjadi catatan kaki sejarah tentang potensi yang tak pernah benar-benar menjadi.

Pilihan itu, ironisnya, tidak dibuat di luar negeri. Ia ditentukan di sini, oleh cara kita memperlakukan hukum, merawat perbedaan, dan memaknai kekuasaan. Dari jendela dunia, Indonesia sedang diamati. Bukan untuk dihakimi, tetapi untuk dibuktikan.

***

*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.