TIMES JAKARTA, JAKARTA – Sekolah dahulu dibayangkan sebagai taman: tempat benih akal tumbuh, disiram rasa ingin tahu, dan dipanen menjadi manusia merdeka. Kini, di banyak tempat, taman itu mulai dipagari pagar besi bernama industri. Di dalamnya, anak-anak tidak hanya diajari berpikir, tetapi juga dilatih menyesuaikan diri seperti baut yang harus pas dengan mur mesin produksi.
Industri datang membawa janji: lapangan kerja, efisiensi, dan relevansi. Pendidikan pun dipanggil untuk menyesuaikan kurikulum, metode, bahkan mimpi. Kampus berlomba mencetak “siap pakai”, sekolah kejuruan didesain seperti ruang tunggu pabrik, dan nilai manusia perlahan diukur dengan satuan produktivitas.
Di titik ini, pendidikan mulai bergeser makna. Ia tidak lagi sepenuhnya tentang pembebasan, tetapi tentang pemesanan. Industri memesan keterampilan, negara mengatur jalur distribusi, dan sekolah menjadi dapur yang memasak sesuai resep pasar.
Tidak sepenuhnya salah. Dunia kerja memang nyata, perut perlu diisi, dan pengangguran bukan teori. Namun persoalannya muncul ketika pendidikan hanya menjadi anak tangga ekonomi, bukan tangga peradaban.
Ketika murid dilihat sebagai calon tenaga kerja semata, bukan warga yang berpikir, merasa, dan berani mempertanyakan. Industri menyukai keteraturan. Pendidikan sejatinya melahirkan kegelisahan. Di sinilah gesekannya.
Di ruang kelas, kreativitas sering diminta rapi. Kritik diajarkan sopan. Pertanyaan tajam dilunakkan agar tidak mengganggu stabilitas. Buku teks menjadi katalog jawaban, bukan ladang pertanyaan. Guru berubah menjadi operator kurikulum, bukan lagi penyalur api pengetahuan.
Perusahaan membutuhkan pekerja yang patuh. Demokrasi membutuhkan warga yang kritis. Pendidikan berdiri di persimpangan: menjadi bengkel tenaga kerja atau menjadi rumah kesadaran.
Ketika industri terlalu dekat dengan sekolah, nilai pun ikut berpindah tangan. Jurusan dianggap “bergengsi” jika cepat diserap pasar. Ilmu sosial dipandang kurang berguna karena tidak langsung menghasilkan laba.
Filsafat dicibir sebagai kemewahan, sastra dianggap hobi, dan sejarah direduksi menjadi hafalan tanggal. Padahal, justru di sanalah manusia belajar menjadi manusia.
Kita mulai mengukur kecerdasan dengan gaji, bukan dengan kepekaan. Kita memuji “link and match”, tetapi lupa menanyakan: match dengan nilai siapa? Link ke arah mana?
Pendidikan yang terlalu tunduk pada industri ibarat kapal yang hanya mengikuti angin pasar. Cepat, mungkin. Jauh, belum tentu. Karena pasar tidak memiliki kompas moral. Ia hanya mengenal untung dan rugi.
Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, relasi ini semakin nyata. Kampus menjual jargon “siap kerja”, brosur pendidikan dipenuhi statistik penyerapan industri, dan orientasi belajar dipersempit menjadi strategi bertahan hidup.
Tidak ada yang salah dengan bertahan hidup. Yang berbahaya adalah ketika hidup berhenti bertanya tentang makna. Industri membutuhkan tangan. Bangsa membutuhkan pikiran. Sejarah membutuhkan nurani.
Jika pendidikan hanya melahirkan pekerja terampil tanpa keberanian bersuara, kita akan memiliki gedung tinggi, tetapi fondasi rapuh. Kita akan punya teknologi canggih, tetapi miskin kebijaksanaan. Kita akan pandai membuat mesin, tetapi gagap mengurus keadilan.
Pendidikan seharusnya bukan hanya menyiapkan anak untuk pekerjaan pertama, tetapi juga untuk pertanyaan terakhir: tentang kebenaran, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana hidup bersama tanpa saling memangsa.
Bukan berarti industri harus dijauhkan. Yang perlu dijaga adalah jarak sehat. Agar sekolah tidak menjadi cabang HRD, dan kampus tidak berubah menjadi pabrik berseragam almamater.
Negara punya peran penting di sini: menjadi wasit, bukan pedagang. Menjamin bahwa pendidikan tidak sepenuhnya dijajah logika pasar. Bahwa kurikulum tidak hanya berbicara tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang etika, sejarah, dan kemanusiaan. Sebab bangsa besar tidak lahir dari buruh yang patuh semata, tetapi dari warga yang berpikir.
Di tengah cerobong pabrik yang terus mengepul, pendidikan harus tetap menjadi ruang bernapas. Tempat anak-anak belajar bukan hanya bagaimana bekerja, tetapi juga mengapa bekerja, untuk siapa bekerja, dan kapan harus berkata tidak.
Jika tidak, kita akan berhasil mencetak generasi yang efisien, tetapi kehilangan arah. Produktif, tetapi mudah dikendalikan. Terampil, tetapi takut berbeda. Dan ketika itu terjadi, sekolah tak lagi menjadi taman. Ia hanya akan menjadi gudang manusia rapi, berguna, dan sunyi dari keberanian.
***
*) Oleh : Raga Arya, International Master Student in Republic of China.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |