TIMES JAKARTA, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI), Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan bahwa dengue masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia hingga saat ini.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan edukasi media bertajuk “Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa” yang didukung PT Takeda Innovative Medicines di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
“Dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatan masyarakat yang berdampak luas. Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan berpotensi menghadapi lonjakan kasus,” ujar Eka Ginanjar.
Ia menekankan bahwa pencegahan dengue harus menjadi fokus utama, bukan hanya ketika kasus sudah terjadi. Edukasi berkelanjutan, kewaspadaan terhadap gejala, serta perlindungan menyeluruh perlu diperkuat secara konsisten.
Melalui kegiatan ini, PAPDI mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai risiko dengue dan langkah pencegahannya, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M Plus hingga vaksinasi. Dengue dinilai sebagai penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan berdampak serius, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
Memperkuat pernyataan tersebut, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, M.K.M., menegaskan bahwa pencegahan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata. Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama, terutama melalui penerapan 3M Plus secara disiplin dan rutin.
“Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala dan segera mencari pertolongan medis agar risiko komplikasi dapat ditekan,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, pengendalian dengue terus diperkuat melalui surveilans, respons kejadian luar biasa, edukasi masyarakat, serta pengendalian vektor secara terpadu bersama pemerintah daerah dan lintas sektor.
“Ke depan, selain upaya dasar seperti 3M Plus, penting juga mempertimbangkan pendekatan pencegahan yang lebih inovatif, termasuk vaksinasi, sebagai bagian dari perlindungan menyeluruh untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada 2030,” jelas dr. Prima.
Sementara itu, dari sisi klinis, Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala awal dengue. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup.
“Dengue sering diawali dengan demam yang tampak biasa, namun dapat berkembang cepat menjadi kondisi berbahaya. Tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran harus segera diwaspadai,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dengan risiko keparahan yang lebih tinggi pada infeksi berikutnya. Hingga kini, belum tersedia obat spesifik untuk menyembuhkan dengue, sehingga pencegahan menjadi langkah paling penting.
Terkait risiko pada orang dewasa, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menyebut dengue tidak hanya menyerang anak-anak. Orang dewasa dengan mobilitas tinggi dan aktivitas sosial padat juga berisiko tinggi, terlebih mereka yang memiliki komorbiditas.
“Berdasarkan Jadwal Imunisasi Dewasa PAPDI terbaru, vaksinasi dengue dapat diberikan pada kelompok usia 19 hingga 60 tahun sebagai bagian dari strategi pencegahan menyeluruh,” ujarnya.
Dari perspektif anak, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengenali tanda bahaya dengue, terutama pada fase kritis yang dapat memburuk dengan cepat.
Ia menyebut imunisasi dengue kini direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan BPOM, sejalan dengan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 5–14 tahun.
Dukungan lintas sektor juga disampaikan Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht. Ia mengungkapkan besarnya beban dengue di Indonesia, dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap pada 2024 yang ditanggung BPJS Kesehatan, dengan biaya hampir Rp3 triliun.
“Pencegahan menjadi sangat penting. Kami berkomitmen mendukung upaya pencegahan dengue melalui kolaborasi, edukasi, dan solusi inovatif,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, PAPDI berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya dengue semakin meningkat dan partisipasi aktif dalam upaya pencegahan dapat terus diperkuat secara berkelanjutan. (*)
| Pewarta | : Ahmad Nuril Fahmi |
| Editor | : Imadudin Muhammad |