TIMES JAKARTA, JAKARTA – Deputi Pengembangan Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf), Cecep Rukendi, menilai industri kreatif memiliki ketahanan atau resiliensi yang kuat di tengah tantangan serta dinamika perekonomian dan geopolitik global.
Menurut Cecep, kekuatan utama ekonomi kreatif terletak pada nilai tambah dari kreativitas yang tidak terbatas. Karakteristik produk kreatif yang unik dan memiliki pasar khusus membuatnya tidak mudah goyah oleh fluktuasi ekonomi dibandingkan barang produksi massal.
“Ekonomi kreatif ini sangat resilien sebenarnya, karena kuncinya adalah nilai tambah dari kreativitas yang terkadang harganya tanpa batas. Kami memiliki pasar khusus yang menyukai produk dan jasa kreatif,” ujar Cecep saat ditemui di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Fokus 7 Subsektor Prioritas
Guna memaksimalkan potensi tersebut, Kementerian Ekraf fokus mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif sesuai amanat Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029. Dari jumlah tersebut, pemerintah menetapkan tujuh subsektor prioritas, yakni: kuliner, fesyen, kerajinan (kriya), aplikasi digital, gim, film, dan musik.
Langkah ini menyusul tren positif minat investasi pada produk kreatif Indonesia. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang diolah Kemenekraf menunjukkan performa impresif sepanjang triwulan I-III tahun 2025.
Subsektor aplikasi menjadi primadona dengan nilai investasi tertinggi mencapai Rp40,94 triliun. Cakupan subsektor ini meliputi teknologi finansial (fintech), e-commerce, aplikasi berbasis AI, hingga platform hiburan.
Capaian Investasi Subsektor Ekraf
Selain aplikasi, sejumlah subsektor lain juga mencatatkan angka investasi yang signifikan seperti fesyen: Rp26 triliun, kriya: Rp22,37 triliun, kuliner: Rp20,38 triliun, musik: Rp4,25 triliun, pengembang gim: Rp1,86 triliun, serta film, animasi, dan video: Rp1,64 triliun
“Ke depan, kami akan terus tingkatkan enabler dari ekosistem ini agar tujuh subsektor prioritas ini semakin meningkat kontribusinya. Terutama film dan musik yang sudah menjadi champion di dalam negeri, diharapkan juga menjadi juara di tingkat internasional,” pungkas Cecep. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kemenekraf: Industri Kreatif Indonesia Miliki Resilien Hadapi Geopolitik Global
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Deasy Mayasari |