TIMES JAKARTA, JAKARTA – Selama ini, pembangunan hampir selalu kita bayangkan dalam rupa beton dan baja: jalan tol yang memanjang, jembatan yang membelah sungai, gedung-gedung yang menantang langit, serta kabel-kabel digital yang menghubungkan kota ke kota. Semua itu penting, bahkan sering dibanggakan sebagai tanda kemajuan.
Namun ada satu fondasi yang kerap luput dari perbincangan serius, padahal ia menentukan kualitas seluruh bangunan bernama Indonesia, yaitu manusia itu sendiri. Dan manusia, sebagaimana hukum alam, tidak dimulai dari ruang kelas, bukan pula dari pabrik atau kantor, melainkan dari rahim seorang ibu.
Di titik inilah stunting seharusnya dibaca ulang, bukan sekadar soal gizi buruk atau statistik kesehatan, melainkan sebagai persoalan strategis tentang bagaimana sebuah negara merawat masa depannya sejak hari pertama kehidupan.
Ketika hampir satu dari lima anak Indonesia tumbuh dalam kondisi stunting, kita sedang berhadapan bukan hanya dengan krisis nutrisi, tetapi krisis sistem kehidupan. Angka itu adalah pesan sunyi bahwa di banyak tempat negara belum sepenuhnya hadir sebagai penjaga awal kehidupan warganya.
Namun narasi yang berkembang justru kerap menyederhanakan stunting sebagai akibat kurangnya pengetahuan ibu, pola asuh yang keliru, atau kebiasaan keluarga yang dianggap tidak sehat. Cara pandang ini terdengar praktis, tetapi sesungguhnya menyesatkan, karena memindahkan beban persoalan struktural ke pundak individu yang paling rapuh.
Ibu dan keluarga tidak hidup dalam ruang steril bernama pilihan bebas. Mereka hidup di dalam sistem: harga pangan yang naik turun seperti ombak, akses air bersih yang masih menjadi kemewahan di sejumlah daerah, sanitasi yang tertinggal, jarak layanan kesehatan yang jauh, pendapatan yang tidak menentu, serta kebijakan publik yang sering lebih sibuk menata angka daripada menata kehidupan.
Di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, seperti sebagian kawasan Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan daerah 3T lainnya, ceritanya hampir selalu serupa. Pangan bergizi sulit dijangkau, air bersih terbatas, jamban sehat belum merata, tenaga kesehatan minim, dan kemiskinan bukan sekadar kondisi sementara, melainkan warisan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam situasi seperti ini, menyalahkan keluarga atas stunting ibarat memarahi penumpang kapal bocor karena bajunya basah, padahal yang seharusnya diperbaiki adalah lambung kapal itu sendiri.
Secara nasional, prevalensi stunting memang menunjukkan tren penurunan dan kini berada di kisaran 19–20 persen. Angka ini kerap dipamerkan sebagai bukti keberhasilan kebijakan. Namun rata-rata nasional sering menjadi tirai yang menutupi luka di balik panggung.
Di sejumlah daerah, stunting bukan pengecualian, melainkan norma. Ia bukan kecelakaan individual, melainkan pola struktural. Ketika sebuah wilayah secara konsisten melahirkan generasi dengan hambatan tumbuh kembang, yang sedang bermasalah bukan hanya dapur keluarga, tetapi desain pembangunan.
Negara tidak dibangun oleh angka statistik, melainkan oleh kualitas nyata manusia yang hidup di desa, pesisir, pegunungan, dan pulau-pulau kecil. Selama masih ada wilayah yang tertinggal jauh dalam urusan paling dasar, yaitu tumbuh sehat, maka cerita tentang kemajuan nasional selalu mengandung catatan kaki yang panjang.
Para ahli sepakat bahwa 1000 hari pertama kehidupan, sejak janin hingga anak berusia dua tahun, adalah periode emas sekaligus periode paling rapuh. Pada masa inilah fondasi otak, metabolisme, sistem imun, dan kecerdasan dibentuk.
Kekurangan gizi, infeksi berulang, lingkungan kotor, dan stres kronis pada fase ini tidak hanya menghasilkan tubuh yang pendek, tetapi juga potensi kognitif yang terpangkas, daya tahan yang lemah, serta produktivitas yang terhambat sepanjang hidup.
Tidak mengherankan bila daerah dengan stunting tinggi sering beriringan dengan rendahnya capaian pendidikan, sempitnya peluang kerja, dan tingginya kemiskinan antargenerasi. Stunting, dengan demikian, bukan hanya masalah hari ini, melainkan cicilan masalah untuk puluhan tahun ke depan.
Karena itu, stunting tidak akan selesai dengan program tempelan, proyek musiman, atau kampanye bergambar anak tersenyum di baliho jalanan. Persoalan ini hanya bisa diurai melalui perubahan arsitektur kebijakan negara.
Perlindungan gizi ibu dan anak, layanan kesehatan dasar yang berkualitas, sanitasi dan air bersih yang layak, sistem pangan yang terjangkau, perlindungan keluarga rentan, edukasi gizi berbasis komunitas, anggaran lintas sektor yang terintegrasi, data yang akurat, serta kepemimpinan yang menjadikan stunting sebagai agenda negara, bukan sekadar program kementerian, adalah satu tarikan napas kebijakan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Tanpa itu, stunting akan terus direproduksi oleh sistem yang sama, seperti rumput liar yang tumbuh kembali karena akarnya dibiarkan hidup.
Membangun Indonesia sebagai negara besar tidak cukup dengan deretan gedung tinggi dan jalan bebas hambatan. Negara besar adalah negara yang memastikan warganya memulai hidup dengan tubuh sehat, otak berkembang, dan peluang yang adil sejak hari pertama.
Stunting adalah ujian visi negara, apakah pembangunan dimaknai sebagai proyek fisik atau sebagai investasi kehidupan. Ia juga ujian kepemimpinan, beranikah negara memprioritaskan hal yang tidak selalu tampak di kamera, tetapi menentukan masa depan.
Lebih dari itu, ia adalah ujian moral sebuah bangsa, sebab negara sejatinya bukan hanya pengelola wilayah, melainkan pengelola kehidupan. Dan kehidupan, sebelum mengenal bendera, sekolah, dan kewarganegaraan, terlebih dahulu mengenal rahim.
***
*) Oleh : Dr. Cashtry Meher, Board of Experts Prasasti Center.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |