https://jakarta.times.co.id/
Sosok

Athalla Hartiana Putri Ungkap Bahaya Child Grooming

Minggu, 08 Februari 2026 - 10:14
Athalla Hartiana Putri Ungkap Bahaya Child Grooming Melalui Memoar Broken Strings Athalla Hartiana Putri bahas bahaya child grooming melalui memoar broken strings. (FOTO: Instagram @athallahardian)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Isu mengenai perlindungan anak dan remaja kembali menjadi perhatian publik setelah terungkapnya kisah pahit yang dialami oleh figur publik Aurelie Moeremans dalam bukunya yang berjudul Broken Strings. 

Melalui memoar tersebut Aurelie menceritakan perihal pengalamannya menjadi korban praktik child grooming saat dirinya baru menginjak usia sekitar 15 tahun. 

Fenomena ini kemudian dibahas secara mendalam untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas agar lebih waspada terhadap modus manipulasi yang sering kali tidak disadari sejak dini.

Dalam hal ini melansir informasi tersebut dari Instagram @athallahardian yang merupakan akun milik Athalla Hartiana Putri Hardian selaku Puteri Indonesia DKI Jakarta 1 2026 sekaligus aktivis kesehatan mental. 

Kemudian Athalla Hartiana Putri menjelaskan bahwa child grooming merupakan sebuah proses sistematis di mana orang dewasa secara perlahan membangun ikatan emosional dengan anak atau remaja. 

"Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa percaya dan ketergantungan demi kepentingan pribadi pelaku yang sering kali berujung pada tindakan eksploitasi," ujar Athalla dikutip TIMES Indonesia, pada Minggu (8/2/2026).

Menurut Athalla Hartiana Putri dalam kehidupan nyata praktik ini sering kali terlihat seperti perhatian yang sangat manis atau pemberian hadiah yang berlebihan di awal hubungan. 

Ia menyatakan bahwa pelaku sering mengeluarkan kalimat manipulatif seperti mengatakan bahwa korban jauh lebih dewasa dibanding teman sebayanya atau hanya pelaku yang bisa memahami perasaan korban. 

"Pola ini perlahan akan berubah menjadi bentuk kontrol di mana korban diminta untuk merahasiakan hubungan mereka dari orang tua atau teman terdekat," ungkapnya menjabarkan.

Ketimpangan kuasa atau power imbalance menjadi faktor utama mengapa perbedaan usia yang jauh dalam sebuah hubungan bisa menjadi sangat berbahaya bagi remaja. 

Lalu Athalla menyebutkan bahwa orang yang lebih tua biasanya memiliki lebih banyak pengalaman dan pintar mengatur situasi sehingga korban cenderung merasa sungkan untuk menolak. 

"Akibatnya korban sering kali merasa harus menuruti semua kemauan pelaku karena takut mengecewakan atau merasa berhutang budi atas perhatian yang telah diberikan," sambung dia.

Beberapa tanda yang sering terlewatkan dalam kasus grooming antara lain munculnya rasa bersalah saat ingin menjauh serta rasa lelah secara emosional karena hubungan yang terlalu intens. 

Athalla menekankan pentingnya bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap diri sendiri dan berani mendengarkan rasa tidak nyaman yang muncul. 

Kemudian hubungan yang sehat seharusnya didasari atas rasa aman dan kesetaraan tanpa ada unsur paksaan atau ancaman yang membuat salah satu pihak merasa ketakutan.

Lebih jauh ia berharap pemaparan mengenai kisah Broken Strings ini diharapkan dapat membantu banyak orang untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian jika pernah mengalami situasi serupa. 

Karena menurut pandangannya kesadaran akan batasan yang sehat merupakan hak setiap orang agar tidak perlu mengorbankan diri demi mendapatkan rasa nyaman yang semu. 

"Edukasi mengenai pencegahan sejak dini menjadi kunci utama untuk memutus rantai manipulasi yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental generasi muda di masa depan," tukasnya. (*)

Pewarta : Wandi Ruswannur
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.